ADVERTISEMENTS

Puisi Haedar Nashir, Bangkitlah Kaum Muda Dari Segala Angkatan

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat membacakan puisi dalam Konser Simfoni Negeri Berkemajuan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (21/09/17)
Bertempat di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sivitas kampus UMY bekerjasama dengan Keluarga Alumni UMY (KAUMY) menggelar konser musik bernuansa Islami bertajuk Simfoni Negeri Berkemajuan, Kamis malam (21/9/2017).

Tidak kurang 1000 warga Muhammadiyah menghadiri acara tersebut. Konser Simfoni Negeri Berkemajuan ini menghadirkan musisi papan atas Dwiki Dharmawan dan orkestra, serta menampilkan artis seperti Ita Purnamasari dan Fathin Sidqia Lubis serta Rafli Kande.

Menariknya, pada acara tersebut Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. KH. Haedar Nashir juga membawakan puisi Yang berjudul Simfoni Negeri Berkemajuan. Pak Haedar begitu akrab disapa, melalui puisi yang ia baca seolah mengajak umat untuk melakukan rekonsiliasi nasional mengesampingkan segala bentuk konflik beralih berfikir dan bertindak untuk kemajuan bangsa.

Juga dalam puisinya, Dr. Haedar Nashir seolah ingin mengajak angkatan muda di segala penjuru negeri untuk bangkit menatap masa depan negeri yang berkemajuan. Harapan terhadap kaum muda tersebut sangatlah besar mengingat sejarah masa lalu selalu ditorehkan oleh generasi muda.

Puisi Haedar Nashir

SIMFONI NEGERI BERKEMAJUAN
Oleh Haedar Nashir

Pada negara kota Plato berfilsafat tentang negara
Al-Farabi menggagas konsep Negara Utama
Segenap peradaban seantero buana
Menorehkan negeri cita-cita ke jagat galaktika

Di sebuah negeri kepulauan nan elok bak zamrut di khatulistiwa
Dengan ribuan etnik dan suku bangsa yang hidup berdiaspora
Allah turunkan segala anugerah-Nya yang tak berbilang
Kekayaan alam yang tak pernah habis untuk lebih tujuh turunan

Setelah 72 tahun merdeka menyeruak sederet kalimat tanya
Adakah negeri terindah ini menjelma menjadi suatu idaman
Atau sekadar serpihan kemajuan di atas tumpukkan masalah dan derita
Nan membuat rakyat resah dalam nada pasrah dan hilang harapan

Di tangan elit dan warga bangsa kini nasib Indonesia tergenggam
Tumbuhkan  jiwa, pikiran, dan perangai bernegara dengan aura cinta
Agar Indonesia tak digadaikan dan tetap menjadi negeri harapan
Bagi semua insan dan golongan yang tak kenal lelah menaruh asa

Ayo, bangkitlah kaum muda dari segala angkatan
Menjadi sosok pendobrak dan pembawa kemajuan
Menanam benih inovasi dan pencerahan
Menuju Indonesia berkemajuan

Sejarah menoreh risalah kaum muda
Ashabul Kahfi sosok Al-Fata melawan rezim angkara
Muhammad muda dikenal Al-Amin terpercaya
Dan Ahmad Dahlan menyemai benih tajdid di usia muda

Tatkala hijrah Muhammad melintas rintangan dengan jiwa kesatria
Ia tinggalkan Makkah tercinta demi risalah Iqra pembuka cakrawala
Bersama kaum Anshar dan Muhajirin menjalin ikatan saudara
Membangun Yatsrib menjadi Madinah Kota Peradaban Utama

Kini lima belas abad pasca kerisalahan Islam nan gemilang
Umat muslim di penjuru buana menggelorakan syiar hijrah
Kaum muda nan belia bergelora mengemban risalah dakwah
Bangun peradaban berkemajuan nan cerah mencerahkan

Jadikan hijrah tonggak baru perubahan
Mengubah perangai-perangai kerdil menjadi mulia
Mengasah nalar cerdas berilmu melintas cakrawala
Menggoreskan tinta emas tuk Indonesia berkemajuan

Di negeri berkemajuan
Agama mengajarkan keadaban dan pencerahan
Anti kebencian, kekerasan, dusta, dan permusuhan
Menggelorakan hidup damai dan saling mencerdaskan

Di negeri berkemajuan
Laki-laki dan perempuan saling memuliakan
Meski peran sama atau berbeda
Tiada diskriminasi dan perendahan martabat sesama

Wahai kaum muda berintegritas dan cerdas cendekia
Jangan biarkan mafioso dan tangan-tangan kotor menjarah Indonesia
Juga pada sebagian elite dan politisi yang menyandera bangsanya
Demi masa depan Indonesia milik semua

Di Sportorium UMY kampus genre muda mendunia
Warga Persyarikatan dan angkatan muda menghadirkan asa
Dalam sentuhan simfoni Dwiki Dharmawan nan lembut mencerahkan
Bagi Negeri Indonesia berkemajuan

Nasrun min Allah wa Fatun Qarib
Yogyakarta, 1 Muharram 1939 Hijriyah - 21 September 2017 Miladiah
red/mghfr

Post A Comment

ADVERTISEMENTS