National

Ads

Pengajian

'Aisyiyah

Dokumen

Persyarikatan

Selasa, 30 Juni 2020

Menjaga Gerbong Besar Muhammadiyah


Alhamdulillah Muhammadiyah berusia lebih satu abad dan terus berkiprah tidak kenal lelah ukan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Beberapa waktu lalu Nasyiatul Aisyiyah bermilad ke-89.

Sebelumnya Pemuda Muhammadiyah memperingati usia ke-88 tahun. Tanggal 19 Mei Aisyiyah milad ke-103 tahun disertai gerakan Sapa Guru khususnya untuk guru PAUD dan TK ABA. Begitu juga organisasi otonom lainnya yaitu IPM, IMM, Tapak Suci dan Hizbul Wathan. Jika ditambah lagi Majelis, Lembaga, Amal Usaha dan institusi lain di lingkungan Persyarikatan dari Pusat sampai Ranting sungguh besar Muhammadiyah itu.

Jaringan organisasi Muhammadiyah paling meluas di seluruh Indonesia dan mancanegara. Mereka yang bergabung dengan Muhammadiyah datang dari berbagai lapisan masyarakat luas di kota dan di pedesaan. Aset Muhammadiyah baik yang bergerak maupun tidak bergerak sangatlah besar, jika dihitung berapa ribu triliun. Mungkin tidak ada organisasi dakwah dan kemasyarakatan yang besarnya dari berbagai aspek kualitatif dan aset melebihi Muhammadiyah. Muhammadiyah seperti Holding Company yang besar, begitulah kata Mohammad Jusuf Kalla.

Kekuatan Muhammadiyah
Peran dan kontribusi Muhammadiyah lebih dari satu abad sangatlah besar dalam membangun umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Kiprah seperti ini kualitatif, sehingga jika dikuantitatifkan sangatlah besar pula. Belum para tokohnya yang ikut membangun negara Indonesia dan telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional seperti KH. Ahmad Dahlan, Nyai Walidah Dahlan, Soedirman, dr Soetomo, Djuanda, Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Kahar Muzakkir, Buya Hamka, dan lainnya. Soekarno dan Fatmawati pun Muhammadiyah.

Jasa Muhammadiyah dan 'Aisyiyah serta para tokohnya sangatlah tak ternilai bila dibandingkan dengan materi. Amaliah Muhammadiyah dengan seluruh komponennya, termasuk 'Aisyiyah, sangatlah nyata sampai di akar-rumput. Sedikit bicara, banyak bekerja, itulah etos gerakan Muhammadiyah. "Muhammadiyah itu telah, bukan akan berkiprah untuk bangsa ini," kata Prof Malik Fadjar.
"Muhammadiyah itu ibarat negara dalam negara," ujar Prof Musa Asya'ari, mantan Rektor UIN Yogyakarta. Prof Nurcholis Madjid menyebut Muhammadiyah organisasi Islam modern terbesar bukan hanya di Indonesia bahkan di dunia Islam. Hal sama diakui James Peacock, peneliti Muhammadiyah dari Amerika Serikat. Presiden Soekarno menyatakan "Makin Lama, Makin Cinta Muhammadiyah". Presiden SOeharto menyatakan "Siapa tidak kenal Muhammadiyah?"

Jadi betapa besar Muhammadiyah itu. Muhammadiyah itu, kata Prof Mukti Ali, ibarat kereta api, gerbongnya banyak atau besar. Sehingga masinis, kru, dan penumpangnya tidak boleh sembarangan. Sekali semaunya sendiri akan berakibat fatal bagi seluruh gerbong dan penumpangnya. Ibarat pesawat terbang, Muhammadiyah itu Airbus komersil, yang pilotnya harus pandai dan piawai, rutenya juga sudah mapan, tidak boleh semau diri. Beda dengan pesawat tempur, pilotnya boleh bermanuver akrobatik, itupun tetap tidak boleh sembarangan karena akan diserang musuh dengan gampang. Itulah gerbong besar bernama Muhammadiyah.

Mungkin bagi sebagian orang di internal Persyarikatan dianggap Muhammaiyah itu masih kurang terus. Sebagai sikap muhasabah itu penting. Namun jangan sampai menghilangkan pandangan objektif tentang kelebihan, keunggulan, dan kebesaran Muhammadiyah sambil terus memperbarui dan memajukan gerakan Islam ini. Jika pihak lain bangga dan percaya dengan Muhammadiyah, kita yang ada di dalam harus menjaga dan membesarkannya terus, tapi tidak dengan sikap negatif.

Seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan, komponen, dan amal usaha harus memiliki kebanggaan akan organisasi ini. Tumbuhkan kebanggaan ber-Muhammadiyah, karena dengan itu semua akan memiliki komitmen yang kuat, sehingga lahir ghirah dan militansi gerakan. Organisasi tanpa rasa bangga namanya kerumunan sosial. Gerakan ini berfondasikan dan berbingkai Islam sebagaimana dipedomani Muhammadiyah dalam nalar bayani, burhani dan irfani yang kokoh dan berkemajuan. Itulah ruh ber-Muhammadiyah.

Menjaga Muhammadiyah
Karenanya jagalah Muhammadiyah agar tidak disalahgunakan, dimanfaatkan, dan dijadikan tunggangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Boleh jadi ada yang niatnya baik tetapi belum tentu caranya baik bagi Muhammadiyah. Apalagi sekadar menjadi alat bagi kepentingan orang perorang dengan pola pikir dan tujuannya sendiri-sendiri yang kelihatan benar dan baik tetapi sejatinya tidak sejalan dengan prinsip, kepribadian, khittah, dan kepentingan Muhammadiyah.

Kalaupun ada yang mau beramar ma'ruf nahyu-munkar, perhatikan dengan seksama apakah benar-benar berdasarkan musyawarah dan keputusan organisasi atau hanya langkah sendiri yang belum tentu sejalan dengan Muhammadiyah sebagai Persyarikatan. Anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah jangan mudah terprovokasi dan terbawa arus isu-isu yang membuat setiap orang berpersepsi dan bertindak sendiri-sendiri. Jika itu terjadi gerbong besar Muhammadiyah akan terkorbankan, yang akibatnya luas dan berat bagi nasib gerakan. Kalau orang perorang atau organisasi kecil mungkin resikonya terbatas, tetapi tidak bagi Muhammadiyah. Di situlah tanggungjawab luhur anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah.

Muhammadiyah menghargai sikap demokratis dan hak anggotanya untuk berpikir dan bertindak yang positif, termasuk dalam ber nahyu-munkar terhadap kondisi bangsa. Tetapi tidak dapat mengatasnamakan organisasi dan membawa kemauan sendiri dengan memakai institusi Muhammadiyah. Pakailah saluran sendiri tanpa membawa-bawa nama serta atribut Muhammadiyah, begitulah kata Pak Anwar Abbas selaku Ketua PP Muhammadiyah. Bukanlah Muhammadiyah bertindak otoriter, tetapi berorganisasi itu ada saluran dan mekanismenya sendiri yang diletakkan dalam sistem Persyarikatan. Perorangan tidak boleh melampaui organisasi.

Jangan menafsirkan sendiri keadaan dan pikiran tentang keadaan dengan menggunakan dalih amar ma'ruf nahyu-munkar secara personal. Muhammadiyah itu organisasi yang memiliki sistem. Muhammadiyah dan para pimpinannya dari pusat sampai bawah juga selama ini menunaikan amar-ma'ruf nahyu-munkar dengan menggunakan koridor organisasi. Jika menganggap Pimpinan Muhammadiyah tidak ber amar-ma'ruf nahyu-munkar maka pendek sekali cara pandangnya. Lihatlah keseluruhan langkah dan kebijakan Muhammadiyah sebagai sistem. Ini bukan apologi, tetapi kenyataan yang sebenarnya.

Memang tidak semua keadaan kebangsaan itu serba positif dan selalu ada masalah, tetapi Muhammadiyah tidak dapat mengambil-over seluruhnya. Masing-masing pihak di negeri ini memiliki posisi dan perannya sendiri. Muhammadiyah tidak dapat menanggung semuanya atas nama amar-ma'ruf nahyu-munkar. Jika tidak puas dengan langkah Muhammadiyah silahkan pakai saluran lain tanpa membawa Muhammadiyah. Insya Allah Pimpinan Muhammadiyah dari Pusat sampai Ranting masih memiliki komitmen untuk ber amar-ma'ruf nahi-munkar secara organisasi sesuai prinsip, kepribadian, khittah, dan musyawarah yang berlaku dalam Persyarikatan.

Kalau orang per orang dalam organisasi berjalan atau bergerak sekehendaknya berdasarkan persepsi dan pikirannya sendiri-sendiri lantas untuk apa ada organisasi? Organisasi hadir karena dirinya memiliki sistem di mana anggotanya harus menyesuaikan diri dengan sistem itu, bukan sistem yang harus menyesuaikan dengan orang. Di sinilah hakikat dan keberadaan berorganisasi yang bersandar pada sistem, bukan pada personal. Justru karena sistem inilah yang membuat Muhammadiyah besar dan mampu bertahan serta bergerak lebih dari satu abad.

Sekali lagi Muhammadiyah itu gerbong besar yang harus mempertimbangkan banyak hal dalam bertindak dan melangkah secara bertanggung jawab. tanggungjawab kolektif dan sistem, bukan sikap perorangan dan personal. Jadi jagalah gerbong Muhammadiyah yang besar dan telah menapaki perjuangan abad kedua dengan barisan yang kokoh sebagaimana perintah Allah:

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh" (QS. ash-Shaff: 4)

(Ditulis oleh Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi dan dimuat dalam Suara Muhammadiyah Edisi Khusus Th ke 105/2020)

Mubaligh Kala Pandemi Corona


Wabah Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 telah mengubah tata kehidupan umat manusia. Tak peduli pejabat atau rakyat biasa, miskin atau kaya, jika tidak berubah pola hidupnya, semua berpeluang terkena dampaknya.

Seruan untuk mencegah penyebaran virus Corona dengan melakukan aktivitas dari rumah, mengakibatkan gedung-gedung perkantoran, perhotelan, tempat hiburan, sekolahan, kampus dan rumah ibadah serta pusat-pusat perdagangan sepi kegiatannya.

Sebagian masyarakat langsung beradaptasi menjalani kegiatan dari rumah dengan segala tantangannya. Tapi sebagian lainnya bingung tak tahu apa yang harus dikerjakan selain meratapi nasib sebagai pengangguran tiba-tiba.

Termasuk sejumlah mubaligh dan ustadz yang menggantungkan maisyah pada honor ngaji atau ceramah. Seperti tercermin dari pesan yang dikirim ke takmir masjid melalui WA (WhatsApp):

Shalat Jum'at ditiadakan...
Kajian-kajian ditiadakan...
Taushiyah Tarwih ditiadakan...
Kuliah Subuh ditiadakan...

Listrik PLN tetap bayar...
Air PDAM tetap bayar...
Biaya pendidikan anak harus lunas...
Ongkos kebutuhan hidup naik...

Pedulikah kamu dengan ustadzmu...
Yang hanya menjadi ustadz...?

Padahal nasib takmir setali tiga uang dengan mubalighnya. Gegara kegiatan masjid tiada, matilah sumber dananya. Mereka kesulitan biaya operasionalnya.

Kalau masih ada yang bergembira, karena saldo tabungannya masih ada. Tapi lebih banyak yang mengeluh setengah putus asa. "Situasi seperti ini kapan berakhirnya?"

Nah, daripada terus mengeluh tiada ujungnya, lebih baik menyiapkan diri menghadapi situasi normal baru secara seksama. Pengajian misalnya, bisa dilakukan secara online menggunakan media zoom meeting atau sejenisnya.

Saya sudah mencoba efektifitasnya. Setelah tahu banyak jamaah mengikutinya, takmir yang sempat ragu pun antusias menyambutnya. Sebagai media, untuk menyapa kembali jamaah yang telah hilang lama.

Jika banyak jamaah bisa mengakses kegiatan dari rumah, sumber dana yang sempat mampet insya allah akan mengalir kembali seperti semula. Pada gilirannya, sang mubaligh akan memperoleh apa yang sempat hilang darinya.

Ujian Kepemimpinan
Darurat Corona, berguna pula sebagai ujian kepemimpinan. Di tengah situasi krisis para pemimpin akan terlihat seberapa mampu leadership-nya menyelesaikan masalah.

Jika sukses menggerakkan, mengkoordinasikan, mengarahkan dan memberikan keteladanan kepada yang dipimpinnya, berarti pemimpin beneran bukan seolah-olah.

Di Muhammadiyah, situasi krisis berguna untuk menguji ketangguhan pimpinan dalam menghadapi tekanan dari berbagai arah. Juga momen pembuktian kreativitasnya dalam menggerakkan organisasi dan sumberdaya yang tersedia.

Aneka cara mesti diupayakan agar organisasi tetap bergerak seperti semula. Tidak boleh terhenti apapun sebabnya. Pertemuan dan pengajian yang biasanya secara tatap muka, bisa menggunakan aplikasi online sehingga menjangkau jamaah di mana pun berada.

Lazimnya dalam situasi krisis ada anggota yang potensial menyimpang dari kebijakan pimpinan di atasnya, cepat dikonsolidasikan dan diarahkan untuk kembali pada khittah-nya. Pun ketika ada penggalangan dana solidaritas bersama, selalu jadi penyumbang pertama. Bukan mengeluh di hadapan anggota.

Kepiawaian pemimpin Muhammadiyah, kembali diuji pada momentum penyelenggaraan shalat Idul Fitri 1441 Hijriyah. Seiring terbitnya Edaran PP Nomor 04/EDR/I.o/E/2020 tertanggal 14 Mei 2020, tentang tuntunan shalat Idul Fitri dalam kondisi darurat pandemi corona.

Intinya, untuk menghindari penyebaran virus Corona yang membahayakan sesama, umat Islam diminta shalat Idul Fitri di rumah. "Kami minta di lingkungan Muhammadiyah memedomani keputusan ini dalam satu barisan yang kokoh," seru Haedar Nashir.

Memedomani tuntunan ini, lanjutnya, merupakan wujud mengikuti garis kebijakan organisasi agar berada dalam satu barisan yang kokoh sebagaimana perintah surat ash-Shaff ayat 4.

Diingatkan pula, di tengah situasi darurat seperti ini agar menjauhi perdebatan dan saling sengketa. "Muhammadiyah harus jadi pemberi solusi yang meringankan masalah umat dan bangsa di saat musibah," pesannya.

Kalau tidak bisa meringankan beban, jangan malah memberatkan umat dan bangsa. "Bagi daerah yang masih merasa aman, justru perlu kehati-hatian, agar rantai penularan tidak terjadi. Kewajiban kita ikhtiar dan tawakal," ujarnya.

Pertanyaannya, akankah semua lulus dengan sempurna? Semoga!

(Ditulis oleh Najib Hamid dan dimuat di MATAN edisi 167/Juni 2020)

Kader

Ekonomi

Ortom

Amal Usaha

Cabang Ranting

© Copyright 2019 JemberMU | All Right Reserved