Novita Sari, Organisasi Jadikan Ia Guru Sekaligus Aktivis Cumlaude

Novita Sari, muslimah aktivis IMM atau Immawati, saat ini sebagai sekbid tabligh DPD IMM Jatim sekaligus Guru SD Muhammadiyah 01 Jember. Lulusan terbaik atau Cumlaude FAI Unmuh Jember tahun 2015
Novita Sari, dara kelahiran 10 November 24 tahun silam ini merupakan guru SD Muhammadiyah 01 Jember sekaligus aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Kini, jabatan yang diamanahkan kepadanya adalah sebagai sekretaris bidang (sekbid) tabligh DPD IMM Jawa Timur, amanah tersebut tentunya tidak serta merta didapatkan begitu saja, melainkan melalui proses beberapa tahun yang lalu dimulai sejak dari komisariat di Universitas Muhammadiyah Jember dan dilanjutkan menjadi salah satu pengurus cabang.

Keaktifannya dalam berorganisasi bermula dari keinginan untuk mendapatkan banyak teman, bisa dimaklumi karena ia berasal dari desa ujung selatan kota Jember, Sambiringik kecamatan Wuluhan dimana jumlah siswa di desa tersebut masih terbilang sedikit.

Pendidikan formal pertama diperoleh dari MI Muhammadiyah 05 Ampel Sambiringik Wuluhan dan dari sinilah ia belajar berorganisasi untuk pertama kali. Sejak kelas 4 SD/MI dia sudah mulai mengikuti pengajian IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah).

Bahkan, saat kelas 6 SD/MI dia diamanahi menjadi ketua ranting IPM Sambiringik, dimana anggotanya waktu itu mayoritas siswa sekolah dasar, namun tidak sedikit pula SMP dan SMA.

Memang, mungkin sedikit aneh karena dengan ilmu dan pengalaman yang masih terbatas sudah diamanahi menjadi ketua ranting, dia sadar akan beratnya tanggung jawab yg di pegang.

Keaktifan menjalankan roda organisasi berlanjut hingga jenjang SMP dan SMA sehingga dia sempat diamanahi menjadi anggota KDI PR IPM SMAM 02 Wuluhan dan ketua bidang KDI PC IPM Wuluhan.

Tidak berhenti hanya saat menyandang status siswa, ketika harus menjadi mahasiswa pun ia bertransformasi pada organisasi otonom muhammadiyah yakni, IMM. Berawal dari hanya sebatas kader, lalu diamanahi menjadi kabid Tabligh Pimpinan Komisariat IMM Thariq bin Ziad, FKIP-FAI Universitas Muhammadiyah Jember.

Baginya, kader sebuah organisasi merupakan "agent of change and social control". Organisasi menjadi tempat belajar terbaik yang pernah dia kenal. Dari organisasi dia belajar manajemen waktu dengan baik, bersosialisasi, ber-akhlaqul karimah, dan tentunya belajar menjadi wanita muslimah sebenar-benarnya.

Tanpa disadari, berorganisasi dalam tenda besar Muhammadiyah menjadikan ia sebagai "santri" yang mulai mengenal ilmu agama lebih baik. Hingga pada akhirnya, ia diterima sebagai guru BTA (Baca Tulis Al-Qur'an) di SD Muhammadiyah 1 Jember sejak masih duduk di bangku kuliah semester 2 di FAI Unmuh Jember.

Sebagai aktitivis yang berangkat dari keluarga sederhana, diterima menjadi guru di SD Muhammadiyah 1 Jember merupakan keberkahan yang harus disyukuri. Hal itu tentunya membuka jalan untuk menjadi muslimah yang lebih mandiri sembari tetap menjalankan amanah yang diberikan oleh organisasi.

Dan benar, pilihannya untuk menjadi aktivis (mahasiswi yang tidak biasa-biasa saja) sekaligus menjadi guru salah satu sekolah favorit di Jember mematahkan anggapan banyak orang jika aktivis tidak dapat berprestasi secara akademik.

Guru Sekaligus Aktivis Cumlaude

Bulan Agustus tahun 2015, tepat 4 tahun kuliah dia lulus kuliah FAI Univ. Muhammadiyah Jember IPK 3,88 dengan predikat Cumlaude.

Bagi Novita, “Hidup hanya sekali maka hiduplah menjadi manusia yang berarti.”

Kini, meski masih menjabat sebagai sekbid bidang Tabligh DPD IMM Jawa Timur, kesehariannya diisi menjalani profesi sebagai guru kelas, dimana sejak bulan desember tahun 2014 ia diamanahi menjadi guru kelas 1 SD Muhammadiyah 01 Jember.

Keyakinannya, guru adalah “digugu lan ditiru“, begitulah sejatinya dan seharusnya seorang guru. Oleh karena itu profesi menjadi guru menuntut ia harus bersikap dan berakhlaq karimah karena akan menjadi tauladan bagi anak didiknya.

Meski masih sebagai aktivis muslimah yang "single", ia berusaha menjaga diri baik dalam hal pergaulan maupun manajemen finansial. Kuncinya, ia selalu melibatkan Allah SwT dalam setiap pengambilan keputusan.

“Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan akan tetapi memberikan apa yang dibutuhkan hambanya.”

Ia senantiasa berkeyakinan bahwasannya setiap aktivitas yang bermanfaat bagi orang lain dan berada di jalan Allah, insyaAllah pasti akan ada jalan kemudahan. "Man jadda wa jada", Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. (red/fhr.)

foto & narasi Novita for JemberMu