Prof. Imam Robandi: Kecepatan lebih baik daripada menunggu keajaiban

SMK Mulia - Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 5 Jember, baru berdiri tahun 2015 akan tetapi telah membuktikan diri sehingga mendapat respon positif dari masyarakat sekitar.
Ini adalah kisah tentang perjalanan kami masa-masa awal pendirian SMK Muhammadiyah 5 Jember. Kami berharap, kisah ini akan menjadi kenangan dan penguat 'ghirah' ketika mulai loyo, sebagaimana sabda Nabi “Al Imanu Yazidu Wayanqus” keimanan seseorang itu kadang naik kadang turun. Sadar akan hal itu, kita perlu "sesuatu" untuk mensupport tekat kita, salah satunya dengan pengalaman yang dituangkan dalam tulisan.

Saat awal mendirikan sekolah tahun 2015 yang lalu, kami hanya punya tekat dan semangat membara dalam diri kami, segala bentuk resiko tidak pernah kami perhitungkan, yang penting bagi kami melangkah walaupun tertatih bahkan sesekali harus terjatuh. Namanya anak muda, terkadang keinginan dan angan-angan melebihi kemampuan yang dimiliki, sehingga ketika terkena masalah barulah merasa bahwa yang diharapkan tidak semudah kenyataan.

Itulah yang kami hadapi, saat awal mempunyai gagasan untuk mendirikan sekolah kami yakin bahwa semua pimpinan cabang akan merestui, tapi ternyata tidak sesuai harapan kami, pro-kontra pun terjadi. Tidak hanya berhenti disitu, kami membayangkan mencari murid untuk sekolah itu mudah tinggal meyakinkan masyarakat dengan buat brosur dan pasang banner siswa akan berdatangan, tapi kenyataanya juga tidak semudah itu. Belum lagi masalah pendanaan, karena lahirnya ada prokontra sehingga pendanaan untuk sekolah yang kami dirikanpun terhambat dan lain sebagainya.

Dari pernak pernik dinamika perjuangan yang kami hadapi lahirlah sebuah keinginan bahwa kami harus segera bangkit untuk menyelesaikanya, hingga ada sebuah ide bagaimana jika kita konsultasi kepada pakar pendidikan yang tentunya sudah mengenal betul dinamika pendidikan Indonesia khususnya Muhammadiyah. Kami berempat, Abdurroziq, Safrizal, Fathuddin dan Agus Wiyono dikenalkan dengan sosok Imam Robandi melalui santri kesayangan beliau yaitu ustadz Ajuslan Kerubun.

Saat bertemu dengan beliau Prof. Imam Robandi dikediamanya perumahan ITS, kami juga bertemu dengan ustadz Zaini pondok modern Speam Pasuruan. Saat awal bertemu kami menceritakan persoalan yang kami hadapi beliau memberikan solusi yang menurut kami tidak sama dengan tokoh lain yang kami temui sebelumnya, Prof. Imam betul-betul memiliki magnet charging yang sangat kuat (super magnet) melalui sentuhan motivasinya.

Ada satu ucapan beliau yang masih saya ingat sampai sekarang hingga menguatkan tekat kami “Anak muda dilahirkan untuk tidak disukai oleh golongan tua”. Kata inilah yang membuat kami lebih bersemangat untuk membuktikan bahwa kami bisa berbuat lebih baik, lebih bermanfaat dari pada apa yang dilakukan anak muda kebanyakan selain kami diluar sana.

Selain spirit yang kami bawa, ada gagasan besar juga yang lahir dari pertemuan tersebut yaitu ide untuk mengadakan 'launching' berdirinya SMK Muhammadiyah 5 yang akhirnya diselenggrakan pada bulan Agustus 2015, yang lebih detail lagi akan kami tuangkan dalam tulisan kami berikutnya.

Obrolan kami bersama Prof. Imam Robandi mulai pukul 19.30 sd 23.00 WIB berjalan tanpa terasa karena nyaris tidak ada sesuatu yang tanpa makna ketika bersama beliau, setiap obrolan selalu ada upaya untuk menanamkan nilai-nilai positif.

Sebelum kami melangkah pulang beliau sempat berpesan kepada kami, Pertama, kecepatan adalah jauh lebih baik dari pada menunggu keajaiban datangnya kesempurnaan. Kedua, mumpung kami di Surabaya jangan buang kesempatan untuk belajar ke sekolah yang lebih dulu maju yaitu SD Muhammadiyah 4 Pucang dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang.

Sesuai dengan pesan beliau kami lantas tidak langsung pulang, karena waktu sudah malam kami mencari tempat untuk menginap, karena ustadz Ajuslan kebetulan kenal baik dengan Pak Edy 'Principal' SD Muhammadiyah 4 Pucang maka kami menginap di 'homestay' sekolah tersebut, ini mungkin yang tidak pernah terfikir oleh kita yaitu menyediakan 'homestay' di lingkungan sekolah.

Di malam itu kami terpesona dengan keindahan arsitektur "The Milenium Bulding", gedung 5 lantai yang menjadi kebanggaan warga Muhammadiyah. Disana kami mendapat pengalaman yang sungguh luar biasa, kami melihat kemajuan yang didasari dengan semangat keikhlasan dengan diwujudkan pelayanan yang prima kepada siapa saja yang berkunjung disana.

Saat pagi tiba, kami segera meninggalkan Pucang untuk segera beranjak ke SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang, kami tiba di sana sekitar pukul 08.00 WIB yang langsung disambut sendiri oleh Ustadz Pahri selaku 'principal'. Mungkin memang pelayanan adalah variabel yang pengting untuk dimiliki bagi sekolah-sekolah besar sekelas SDM 4 Pucang dan SMKM 7 Gondanglegi, tak heran jika dengan keramah tamahanya Ustadz Pahri menyambut kami, beliau mendampingi sendiri untuk berkeliling melihat semua sudut sekolah hingga ke gedung yang baru yaitu "The Titanium Building" yang waktu itu pengerjaanya baru selesai sekitar 80%.

Ada pesan beliau yang disampaikan kepada kami yaitu, “Jika mendirikan sekolah sama dengan sekolah lain, lebih baik tidak usah karena mendirikan sekolah memerlukan biaya yang besar” dengan nada santun sesuai dengan karakter beliau.

Pesan ini begitu mendalam untuk difikirkan hingga menuntut kami berfikir keras untuk mencari 'branding' yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar, karena sekolah adalah kebutuhan masyarakat, maka sekolah harus mampu menjadi jawaban dari kebutuhan masyarakat tersebut.

Akhirnya sepulang dari kediaman Prof. Robandi, SDM 4 Pucang dan SMKM 7 Gondanglegi kami punya semangat baru, semangat untuk maju menjadi lebih baik. Mudah-mudahan perjalanan kami yang pertama tersebut adalah langkah awal untuk melangkah menjadi lebih berkemajuan. Mari mengukir prestasi!. ● Abdurroziq

Penulis adalah principal SMK Mulia Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 5. Ditulis Ahad, 2 Oktober 2016