Selamat Datang di Laman JemberMu.com - Portal Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Jember

RELEVANSI GERAKAN IPM JEMBER MASA DEPAN: “BERUBAH ATAU BERTAHAN?”

 

Oleh: Fajri Dimas Hajriyanto
(Ketua PD IPM Jember Bidang Apresiasi Seni Budaya & Olahraga)

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah gerakan ini akan terus relevan dengan kebutuhan pelajar, atau justru bertahan dalam pola gerakan lama yang perlahan kehilangan ruh gerakannya? Pertanyaan “Berubah atau Bertahan?” bukan sekadar persoalan pilihan kata, melainkan refleksi kritis pelajar terhadap arah dan keberlanjutan gerakan IPM Jember di masa depan. Sebagai organisasi pelajar yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan semangat pembaruan, IPM memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai ruang pendidikan, kaderisasi, serta pemberdayaan dan advokasi pelajar. Namun, tantangan yang dihadapi pelajar hari ini semakin kompleks, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, kesehatan mental, hingga perkembangan teknologi dan perubahan budaya. Oleh karena itu, IPM perlu mengevaluasi kembali relevansi gerakannya agar tidak hanya dikenal sebagai organisasi yang menjalankan program kerja, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan pelajar.

Berbagai persoalan pelajar yang perlu menjadi perhatian IPM meliputi pernikahan dini, perundungan, kenakalan remaja, tantangan pendidikan, lingkungan hidup, dan pengembangan kreativitas. Pernikahan dini berkaitan dengan kesiapan mental, kesehatan reproduksi, serta keberlanjutan pendidikan. Oleh karena itu, IPM perlu menghadirkan edukasi dan pendampingan yang mendorong pelajar memahami pentingnya pendidikan, merencanakan masa depan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Sementara itu, perundungan dan kenakalan remaja membutuhkan pendekatan yang humanis melalui penguatan karakter, kesehatan mental, serta penciptaan lingkungan pergaulan yang aman, sehat, dan inklusif.

Dalam bidang pendidikan, IPM perlu merespons kesenjangan kualitas pembelajaran, rendahnya literasi, keterbatasan akses teknologi, dan kebutuhan akan kemampuan berpikir kritis. Teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan advokasi, bukan sekadar media publikasi kegiatan. Di sisi lain, isu lingkungan hidup juga perlu menjadi bagian dari gerakan pelajar melalui pembiasaan hidup berkelanjutan, pengelolaan sampah, dan kampanye kepedulian lingkungan. IPM juga perlu menyediakan ruang yang lebih luas bagi kreativitas pelajar melalui kegiatan olahraga, seni, literasi, kewirausahaan, dan pengembangan keterampilan digital.

Dengan demikian, IPM perlu menjadi ruang tumbuh, ruang berproses yang mampu mengembangkan potensi, membangun karakter, dan mendorong kepedulian sosial pelajar. Gerakan organisasi tidak cukup berhenti pada kegiatan formal, tetapi harus diwujudkan melalui program yang inovatif, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Relevansi IPM di masa depan ditentukan oleh kader yang memiliki kemampuan membaca persoalan dan isu pelajar, mengevaluasi gerakan, serta menghadirkan solusi nyata tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan ideologi organisasi.


Pada akhirnya, pertanyaan “Berubah atau Bertahan?” merupakan ajakan bagi seluruh kader IPM untuk melakukan refleksi sekaligus menentukan arah gerakan ke depan. Bertahan pada nilai perjuangan adalah sebuah kewajiban dan keharusan, tetapi bertahan pada pola gerakan yang tidak lagi menjawab kebutuhan zaman justru dapat menjadi penghambat kemajuan organisasi. IPM harus mampu membedakan antara prinsip yang perlu dijaga dan strategi yang perlu diperbarui. Ideologi menjadi kompas, sedangkan inovasi menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan. Jika IPM ingin tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan pelajar, maka organisasi ini harus berani keluar dari zona nyaman, mendengar suara pelajar, memahami persoalan mereka, dan menghadirkan solusi yang dapat dirasakan secara nyata. Masa depan IPM tidak cukup dibangun melalui slogan perubahan, tetapi melalui keberanian untuk memulai, kesediaan untuk berbenah, dan konsistensi dalam bergerak. Sebab, perubahan zaman tidak akan menunggu kesiapan sebuah organisasi. Pertanyaannya bukan lagi apakah IPM perlu berubah, melainkan seberapa berani IPM melakukan perubahan agar tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi generasi pelajar masa depan.