MPKS PWM Jawa Timur Dorong Transformasi LKSA Muhammadiyah Melalui Bimtek dan Monitoring Evaluasi
![]() |
| MPKS PWM Jawa Timur Dorong Transformasi LKSA Muhammadiyah Melalui Bimtek dan Monitoring Evaluasi (Istimewa/JemberMu.com) |
JemberMu.com – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PWM Jawa Timur terus mendorong transformasi pengelolaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Muhammadiyah agar semakin profesional, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan potensi anak. Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Monitoring Evaluasi (Monev) LKSA Korwil V yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Jember pada Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para pengelola LKSA Muhammadiyah dari wilayah Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Selain menjadi forum evaluasi, kegiatan tersebut juga menjadi ajang konsolidasi untuk memperkuat kualitas pelayanan dan menyamakan arah pengembangan LKSA Muhammadiyah di Jawa Timur.
Mewakili Rektorat sekaligus Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Jember, Puput Ridjalu Widjaja menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengelola LKSA yang selama ini mengabdikan diri dalam mendampingi anak-anak yatim dan dhuafa.
Menurutnya, para pengelola LKSA merupakan sosok yang memilih mengabdikan tenaga dan pikirannya demi masa depan anak-anak, sehingga kegiatan pembinaan seperti ini diharapkan mampu memperkuat semangat dalam memberikan pelayanan terbaik.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PWM Jawa Timur, Muhammad Himawan Sutanto, mengungkapkan bahwa Muhammadiyah saat ini mengelola sekitar 160 LKSA dengan lebih dari 4.000 anak asuh di seluruh Jawa Timur. Besarnya jumlah tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas tata kelola yang berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa paradigma pengelolaan LKSA perlu bergeser dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar anak menjadi lembaga yang mampu mengembangkan potensi setiap anak sesuai karakteristik dan potensi daerah masing-masing.
Menurut Himawan, setiap wilayah memiliki keunggulan yang berbeda sehingga pengelolaan LKSA harus mampu mengoptimalkan potensi lokal agar anak-anak asuh memiliki bekal keterampilan, kemandirian, dan daya saing di masa depan.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi bukan hanya berfungsi sebagai penilaian administrasi, tetapi menjadi sarana membangun budaya kerja yang berkualitas sekaligus memperkuat pemahaman seluruh pengelola terhadap standar pengasuhan Muhammadiyah.
"Yang ingin dibangun adalah kesamaan visi dalam pengelolaan LKSA. Ketika seluruh pengurus memiliki pemahaman yang sama, maka proses pengasuhan akan menjadi tanggung jawab bersama dan berjalan lebih optimal," ujarnya.
Berbeda dengan lembaga sosial pada umumnya, LKSA Muhammadiyah menerapkan pendekatan pengasuhan yang lebih komprehensif. Selain memenuhi standar akreditasi pemerintah, Muhammadiyah juga memperkuat pembinaan melalui nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai fondasi pembentukan karakter anak.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan anak-anak asuh yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan keterampilan hidup, tetapi juga memiliki integritas, spiritualitas, serta kepedulian sosial yang tinggi.
Melalui penyelenggaraan Bimtek dan Monitoring Evaluasi ini, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PWM Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi LKSA Muhammadiyah menjadi lembaga pelayanan sosial yang profesional, modern, dan mampu menjawab tantangan pengasuhan anak di masa depan.
Penulis: Raditya Arkan.
.jpeg)