Ketahanan Keluarga 2026: Siapkah Menjadi Orang Tua di Era AI?
![]() |
| Ketahanan Keluarga 2026: Siapkah Menjadi Orang Tua di Era AI? (Ilustrasi/JemberMu.com) |
Oleh: Dwi Aswangga
Mahasiswa Kader Ulama Tarjih PWM Jawa Timur Utusan PDM Jember
Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 hadir di tengah derasnya disrupsi teknologi. Jika dahulu tantangan terbesar orang tua di ruang keluarga adalah kecanduan televisi, kini tantangannya jauh lebih kompleks dan tidak kasat mata, yakni Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
AI bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Teknologi ini telah hadir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan masuk ke ruang-ruang pribadi anak-anak. AI membantu mereka mengerjakan tugas sekolah, menjadi sumber informasi, hingga berperan sebagai "teman berbincang" secara virtual. Di sisi lain, orang tua juga memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan maupun aktivitas rumah tangga. Dengan demikian, AI seolah telah menjadi "anggota keluarga baru" di era digital.
Pertanyaan pentingnya, apakah keluarga kita sudah siap? Mampukah orang tua tetap memegang kendali pengasuhan ketika anak-anak justru lebih mahir menjelajahi dunia digital dibandingkan ayah dan ibunya?
Digital Gap: Ketika Kendali Orang Tua Mulai Melemah
Momentum Harganas 2026 mengingatkan bahwa ketahanan keluarga perlu dimaknai kembali. Ketahanan keluarga tidak lagi hanya diukur dari stabilitas ekonomi atau keharmonisan hubungan, tetapi juga dari kemampuan keluarga beradaptasi dengan perkembangan teknologi (digital agility).
Tantangan utama saat ini adalah digital gap, yakni kesenjangan literasi digital antara orang tua dan anak. Anak-anak lahir sebagai digital native yang akrab dengan teknologi dan algoritma, sedangkan sebagian besar orang tua merupakan digital immigrant yang masih berusaha mengejar perkembangan tersebut.
Kesenjangan ini menjadi persoalan serius. Ketika orang tua hanya mengetahui bahwa anak sedang memegang gawai tanpa memahami apa yang diakses, maka fungsi kepemimpinan keluarga (qiwamah) mulai melemah. Anak-anak berpotensi menerima berbagai informasi tanpa proses penyaringan yang memadai.
Perlu disadari bahwa AI bukan sekadar alat bantu. AI juga mampu membentuk opini. Teknologi ini dapat menghasilkan teks, gambar, maupun video palsu (deepfake), bahkan memengaruhi cara berpikir penggunanya. Tanpa literasi digital yang memadai, AI berpotensi menjadi sumber penyebaran hoaks sekaligus memicu ketergantungan yang berdampak pada kesehatan mental generasi muda.
Sentuhan Manusia Tidak Dapat Digantikan Teknologi
Dalam perspektif Hukum Keluarga Islam (HKI), tanggung jawab mengasuh (hadhanah) dan mendidik (tarbiyah) tetap berada di tangan orang tua. Kewajiban tersebut tidak berkurang meskipun zaman terus berkembang. Justru, hadirnya AI menuntut orang tua untuk lebih adaptif, responsif, dan bijaksana dalam mendampingi anak.
Satu hal yang perlu diyakini, AI tidak akan pernah mampu menggantikan peran ayah dan ibu. Algoritma secanggih apa pun mungkin dapat menyelesaikan persoalan matematika dalam hitungan detik, tetapi tidak memiliki empati, kasih sayang, keteladanan (uswah hasanah), maupun kemampuan membentuk akhlak (akhlak al-karimah). Teknologi dapat membantu proses transfer pengetahuan, tetapi keluarga tetap menjadi tempat utama dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Reinterpretasi Maqashid Syariah di Era AI
Dalam menghadapi tantangan ini, pendekatan Maqashid Syariah menjadi sangat relevan. Lima tujuan utama syariat (al-kulliyat al-khams) dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan digital saat ini.
Pertama, Hifz al-'Aql (Perlindungan Akal). Anak perlu dibiasakan berpikir kritis (critical thinking). Mereka harus memahami bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang bias, keliru, bahkan manipulatif. Jangan sampai akal sehat mereka dikendalikan oleh algoritma.
Kedua, Hifz al-Nasl (Perlindungan Keturunan). Orang tua perlu memastikan penggunaan gawai tidak mengurangi interaksi sosial anak di dunia nyata. Ketergantungan berlebihan terhadap AI dapat menghambat perkembangan emosional dan kemampuan bersosialisasi.
Ketiga, Hifz al-Nafs (Perlindungan Jiwa). Kesehatan mental di era digital menjadi perhatian yang tidak boleh diabaikan. Arus informasi yang begitu deras dan budaya mencari validasi di media sosial dapat memicu kecemasan. Karena itu, rumah harus menjadi safe space, tempat yang aman, hangat, dan nyaman bagi setiap anggota keluarga.
Strategi Menghadapi Dominasi Algoritma
Menolak perkembangan AI bukanlah pilihan yang realistis. Yang diperlukan adalah kemampuan mengelola dan memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, khususnya oleh keluarga Muhammadiyah.
Pertama, meningkatkan literasi digital. Orang tua tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi perlu memahami fungsi dasar aplikasi dan platform digital yang digunakan anak.
Kedua, membangun komunikasi yang dialogis. Pola asuh hendaknya lebih terbuka sehingga anak merasa nyaman berdiskusi mengenai pengalaman mereka di ruang digital tanpa rasa takut atau dihakimi.
Ketiga, menyusun kesepakatan penggunaan gawai di lingkungan keluarga. Aturan mengenai durasi maupun batasan penggunaan perangkat digital perlu disepakati bersama dan berlaku bagi seluruh anggota keluarga, termasuk orang tua.
Keempat, memperkuat pendidikan agama. Nilai-nilai akidah, akhlak, kejujuran (shidiq), dan tanggung jawab (amanah) harus tetap menjadi fondasi utama agar anak mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Kendali Tetap Berada di Tangan Orang Tua
Harganas 2026 mengingatkan bahwa tantangan zaman akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Menjadi orang tua di era AI berarti siap menjadi pendamping sekaligus mentor digital bagi anak-anak.
Ketahanan keluarga pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa canggih perangkat teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa kuat nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman ditanamkan dalam kehidupan keluarga. AI boleh semakin pintar, tetapi ia tetap hanyalah wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan). Kendali pengasuhan harus tetap berada di tangan orang tua.
Lalu, siapkah kita?
Jawabannya bergantung pada kesediaan kita untuk terus belajar, beradaptasi, dan tidak pernah lelah membersamai tumbuh kembang generasi masa depan.
