Selamat Datang di Laman JemberMu.com - Portal Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Jember

”KEMBALI MENYAPA BASIS: REJUVENASI GERAKAN IPM DARI RANTING KE PERADABAN”

 

 ”KEMBALI MENYAPA BASIS: REJUVENASI GERAKAN IPM  DARI RANTING KE PERADABAN” Opini (Fajar Divan/JemberMu)

Di tengah derasnya arus perkembangan digitalisasi, Fajar Devan (Ketua Umum PD IPM Jember) menegaskan perubahan sosial, dan tantangan generasi muda dan organisasi pelajar hari ini tidak cukup hanya hadir sebagai simbol struktural. Organisasi harus mampu menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, sekaligus ruang perjuangan bagi pelajar dan siswa siswi. Dalam konteks itulah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) lahir dan dituntut untuk terus melakukan pembaruan gerakan agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan akar ideologinya.

Namun, satu pertanyaan penting perlu diajukan, apakah gerakan IPM hari ini masih benar-benar menyentuh basis? Ataukah gerakannya justru lebih sibuk berkutat pada agenda administratif, seremonial, dan dinamika elit organisasi?

Pertanyaan ini menjadi penting karena kekuatan sejati IPM sesungguhnya tidak lahir dari forum-forum besar atau sekadar riuh media sosial, melainkan dari denyut kehidupan ranting. Dari sekolah-sekolah Muhammadiyah, masjid, komunitas pelajar, dan ruang kecil tempat kader pertama kali mengenal arti perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian.

Data pimpinan IPM Jawa Timur menunjukkan bahwa jaringan organisasi IPM sebenarnya sangat besar dan luas. Banyak pimpinan daerah, cabang, hingga ranting telah terhubung dalam sistem digital organisasi. Namun di sisi lain, masih terdapat beberapa pimpinan yang belum aktif atau bahkan belum terkoneksi secara optimal dalam sistem tersebut. Hal ini menjadi gambaran bahwa revitalisasi gerakan akar rumput masih menjadi PR bersama. Dalam kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan IPM hari ini bukan sekadar bagaimana memperbanyak program, tetapi bagaimana menghidupkan kembali basis gerakan. Sebab organisasi yang besar tidak hanya diukur dari megahnya agenda wilayah atau pusat, melainkan dari hidup atau matinya ranting.

Fajar Devan (Ketua Umum PD IPM Jember) juga menegaskan bahwa ranting merupakan jantung kaderisasi. Dari sinilah lahir kader yang mengenal ideologi Muhammadiyah secara nyata, belajar memimpin dan menjadi pimpinan, hingga belajar mengelola kegiatan sederhana, dan memahami problem sosial di sekitarnya. Ketika akar rumput hidup, maka organisasi memiliki harapan untuk terus berkembang dan hidup, namun sebaliknya, jika akar rumput melemah dan hilang, maka regenerasi organisasi akan kehilangan arah.

Karena itu, rejuvenasi gerakan IPM harus dimulai dengan kembali menyapa basis. Pengurus di semua level perlu turun langsung mendengar suara ranting, memahami persoalan pelajar, dan membangun kultur gerakan yang lebih membumi. IPM harus kembali hadir di ruang-ruang pelajar, seperti perpustakaan sekolah, masjid, kelas diskusi, kegiatan literasi, advokasi kesehatan mental, isu pendidikan, lingkungan, hingga ruang kreatif digital anak muda.

Rejuvenasi juga berarti membangun ulang orientasi gerakan. Yang dimaksud IPM tidak boleh hanya menjadi organisasi acara, tetapi harus menjadi gerakan keilmuan, pengetahuan dan peradaban. Pelajar Muhammadiyah perlu didorong menjadi generasi yang kritis, adaptif, dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Lebih jauh lagi, rejuvenasi gerakan IPM harus diarahkan pada cita-cita besar peradaban atau hari ini kita sebut dengan ”Madani”. Sebab sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari komunitas kecil yang hidup. Peradaban tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari anak-anak muda yang terbiasa berdiskusi, membaca, bergerak, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ketua Umum PD IPM Jember, Fajar Devan menyebutkan bahwa IPM memiliki modal besar untuk bergerak dan kembali pada Rejuvenasi Ikatan. Jaringan sekolah Muhammadiyah yang luas, kultur kaderisasi yang kuat, serta nilai perjuangan dakwah menjadi pondasi penting untuk membangun gerakan pelajar yang transformatif dan berdampak. Tinggal bagaimana seluruh elemen organisasi memiliki keberanian untuk kembali menguatkan dan menyapa basis itu.

Sudah saatnya IPM tidak hanya dikenal karena agenda seremonial dan dinamika struktural saja, tetapi harus dengan keberhasilannya membangun ekosistem pelajar yang hidup, kritis, dan berdampak. ”Gerakan yang tidak berjarak dengan pelajar. Gerakan yang hadir di tengah problem nyata generasi muda. Gerakan yang tumbuh dari ranting lalu menjalar menjadi kekuatan peradaban”. Karena sejatinya, masa depan IPM ini tidak ditentukan oleh seberapa ramai panggung organisasi, melainkan oleh seberapa kuat ia menyapa basisnya sendiri.

 

 

*) Penulis: Fajar Divan Anugrah

            Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.

            Ketua Umum PD IPM Jember