Bahasa Daerah Adalah Bahasa Dakwah

Bahasa daerah adalah bahasa dakwah
Bahasa daerah adalah bahasa dakwah
Bahasa adalah ilmu Allah, patut diajarkan di sekolah-sekolah untuk mengenalkan keragaman bangsa yang diciptakan Tuhan, sehingga tumbuhlah ketakjuban atas kebesaran-Nya.

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

"Dan di antara bukti-bukti (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi perbedaan bahasa dan warna (kulit) kalian sungguh di dalamnya ada bukti (kebesaran Tuhan) bagi orang yang berpengetahuan. (QS Ar-Rum ayat 22)"

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat 13)"

Beberapa tujuan diajarkannya bahasa agar:

  1. Saat kita berbicara dengan orang dengan logat atau dialek tertentu, kita dapat mengenalinya darimana dia berasal, bahkan watak kepribadiannya. Misalnya, sama-sama menggunakan bahasa Indonesia saat bercakap-cakap, tapi terselip panggilan “Mas” atau “Mbak” maka kita mengenali dia berasal dari daerah Jawa Tengah atau Timur, sedangkan “Bang” atau “Mang” biasanya Jawa Barat.

  2. Menunjukkan bahwa perkembangan bahasa adalah dari kemampuan beradaptasi yang dimiliki makhluk-makhluk Allah tetapi tidak demikian dengan ciptaan manusia. Tidak ada program atau robot yang bisa beradaptasi untuk bertahan dalam berbagai kondisi. Bayangkan, dari satu bahasa yang digunakan Adam a.s. kini menjadi ribuan. Indonesia saja memiliki lebih dari 721 bahasa. Satu jenis air yang menyirami tanaman, menumbuhkan tanaman dengan beragam warna dan rasa buah yang berbeda-beda, padahal airnya tawar.
Kedudukan semua bahasa adalah sama, tidak ada bahasa yang hina, kendatipun itu bahasa Israel. Namun di antara semua bahasa tersebut Bahasa Arab dipilih Tuhan untuk menjadi bahasa pengantar kitab suci-Nya, sehingga mendapat keutamaan yang istimewa. Hanya saja disini kita tidak hendak membahas keistimewaan itu. Sahabat Nabi Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Ibrani, bahasanya kaum Yahudi untuk dapat berkorespondensi dengan mereka, dan itu beliau usahakan dalam 15 hari saja.

Dari sini kita dapat menarik beberapa manfaat lain belajar bahasa:

  1. Memudahkan keperluan kita yang berkaitan dengan suku bangsa tertentu, khususnya dalam hal kewajiban berdakwah kepada mereka.

  2. Mempelajari kebaikan atau kemajuan dari bangsa lain. Kalau kita ketahui banyak kata yang diserap dari bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, kita akan mengetahui bahwa bangsa tersebut maju dalam hal apa. Contohnya “kertas” berasal dari bahasa Arab “qirtosun”, padahal ditemukan di Cina (bahasa Cinanya kertas adalah “zhi”). Sejarahnya bangsa Cina memproduksi kertas dengan sangat elitis, hanya dikuasai kelangan tertentu dan sangat rahasia.

    Ketika terjadi pertempuran dengan Khilafah Islam, dua orang keluarga pembuat kertas tertangkap dan dibebaskan setelah mengajarkan cara membuat kertas. Setelah itu kertas diproduksi besar-besaran sehingga menyebar luas ke seluruh dunia. Karena produksinya yang masif itulah dokumen ditulis dalam bentuk buku tidak lagi berupa gulungan, dan untuk pertama kalinya dunia mengenal penjilidan dari dunia Islam.

  3. Manfaat yang satu ini disampaikan dosen saya dalam mata kuliah linguistik. Mengetahui bahasa orang lain berarti kita selamat dari tipu daya orang itu. Maksudnya bukan hanya tipu daya, tapi juga salah paham. Hal ini mungkin kita hindari bila bahasa yang dimaksud bukan sekedar mengetahui kosakatanya, tapi juga budayanya.

    Misalnya, kalau mengundang orang Indonesia untuk rapat jam 08.00, itu artinya mereka akan bersiap-siap untuk berangkat dari rumah jam 08.00, dan tentu saja baru datang di tempat paling cepat setengah jam kemudian. Contoh lainnya adalah beberapa orang bisa menyebut “saya” dengan “kita”,  orang Madura menyebut “biru” untuk “hijau”, dan sebagainya.
Dari berbagai manfaat bahasa itu, tentu sangat keliru kalau memandang bahasa sebelah mata. Tahukah apa yang diajarkan Tuhan kepada nabi Adam AS dalam rangka menjawab pertanyaan kritis para malaikat?. (*)


ditulis oleh:
Gilig Pradana
Alumni IMM Kom. Ahmad Dahlan Univ. Jember
Perintis pendirian Kuttab di Jember
Pengasuh Sanggar Panah