SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan Gandeng KUA Tekan Perkawinan Anak, Gelar Sosialisasi untuk Remaja
![]() |
SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan Gandeng KUA Tekan Perkawinan Anak, Gelar Sosialisasi untuk Remaja (Khoirul Anam/JemberMu.com) |
JemberMu.com — Dalam upaya menekan angka perkawinan anak yang masih tinggi, SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wuluhan menggelar kegiatan “Sosialisasi Pencegahan Perkawinan Anak” di aula sekolah pada Rabu (10/7/2025). Kegiatan ini menjadi langkah nyata dunia pendidikan dalam menyikapi fenomena perkawinan anak yang kerap terjadi diam-diam dan sulit terpantau.
Kepala SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan, Luluk Budianti, menyampaikan bahwa meningkatnya kasus perkawinan anak tidak lepas dari perubahan pola pergaulan remaja, terutama karena kemajuan teknologi dan kemudahan akses media sosial.
“Perkawinan anak terus meningkat setiap tahun. Sekolah harus hadir memberikan pemahaman kepada siswa tentang batas-batas pergaulan dan pentingnya perencanaan masa depan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat membekali siswa dengan kesadaran mengenai dampak hukum, sosial, dan psikologis dari perkawinan usia dini.
Materi sosialisasi disampaikan langsung oleh Kepala KUA Wuluhan, H. Muhammad Subkhan Zaen, S.H., yang menekankan pentingnya peran semua pihak—pemerintah, sekolah, keluarga, hingga tokoh masyarakat—dalam pencegahan perkawinan anak.
“Isu ini tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. Butuh kerja sama lintas sektor agar upaya pencegahan berjalan efektif,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, para siswa aktif bertanya dan berdialog terkait isu-isu remaja dan tantangan yang mereka hadapi di era digital. Salah satu siswi kelas VIII, Anisah, mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Kami jadi lebih mengerti tentang pentingnya menjaga pergaulan dan fokus pada masa depan,” katanya.
Kegiatan ini menegaskan komitmen SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan untuk tidak hanya menjadi lembaga pendidikan formal, tetapi juga ruang aman yang mendukung tumbuh kembang remaja secara utuh, baik secara moral, sosial, maupun emosional.
— Khoirul Anam