TEMAN SEKAMAR SELAMA BERHAJI: MOTIVASI DAN UJIAN

Ilustrasi


    Bagi muslim di Indonesia, beribadah haji merupakan ibadah komunal, karena dalam prosesnya, senantiasa dilaksanakan secara bersama-sama dengan jamaah haji lain. Kebersamaan dengan orang lain yang paling lama adalah Ketika jamaah haji (JH) sudah sampai di Mekah dan Madinah, dimana kita ditempatkan dalam kamar-kamar hotel. Biasanya dalam satu kamar diisi 5 orang JH, ada juga yang 6 JH atau 4 JH. Di Mekah biasanya akan berlangsung selama 1 bulan, sedangkan di Madinah selama 8,5 – 9 hari. Dalam masa itulah motivasi atau sebaliknya sebuah ujian dari teman sekamar akan dirasakan JH.

    Saya memperhatikan beberapa kamar yang ada di lantai dimana saya tinggal dan juga dari bebabagai sumber, dalam 1 kamar tsb  ada banyak atau beberapa varian orang, mulai tingkat ekonomi , Pendidikan, usia, asal daerah (desa,kecamatan atau kota) yang akan terkait dengan varian kebiasaan dan budaya (pola hidup), pemahaman agama, kebugaran fisik atau kesehatannya dan masih banyak varian lainnya. Semakin banyak yg homogen dari varian-varian tsb dalam kamar, maka makin nyamanlah JH tinggal, dan begitu sebaliknya. Tetapi sebenarnya tentang kenyamanan itu juga sangat tergantung pada tingkat toleransi JH tsb. Tetapi memang dari awal semua JH memang sudah diberikan pesan-pesan dari para petugas haji agar kita senantiasa bertoleransi dengan orang lain; Tetapi sungguh saya melihat ada banyak orang yang benar-benar sulit untuk bertoleransi dg situasi tsb karena memang bener-bener tidak bisa, akhirnya Cuma dipendam di hati dan ke kamar hanya waktu2 tertentu sj.

    Ketika jamaah haji sudah tinggal di Mekkah dengan kondisi teman sekamar yang bisa bervariasi tsb, maka berbagai hal bisa terjadi pada JH, dan ditentukan oleh tingkat tolerasi kita tadi. Kita yang dari awal berangkat haji sudah bertekad ingin maksimal dan ideal berhaji, maka setelah di tanah suci, maka bisa jadi idealismenya turun atau diturunkan karena teman sekamar, pun sebaliknya ada juga JH yang justru menjadi termotivasi lebih baik karena teman yang baik di kamar. Ketika JH memilih untuk kurang toleran atau kurang peduli dengan teman sekamar (misalnya ada JH lansia yang lemah berkursi roda, JH lansia pikunan, atau JH yang sakit sakitan dll),  karena ingin menjaga idealismnya (misalnya dengan alasan: saya untuk berhaji ini telah lama menunggu, biaya mahal, masak disini disuruh menjaga lansia atau yang sakit?), maka sikap spt itu bisa jadi menjadi rasan2 JH yg lain: yang gak punya hatilah, tega banget orang tua atau JH sakit ditinggali sendirian terus di kamar dan lain-lain omongan yang sejjenis. Bahkan masalah yang ringan ringan saja sesama JH di kamar, kadang menjadi ujian bagi JH, seprti kebiasaan merokok, bau badan, kebiasaan tidak berbaju, mendengkur, batuk berdahak, jorok, di KM selalu lama dll seringkali menjadi ujian bagi JH.

    Maka untuk meminimalisasi hal hal yang seperti itu, agar kita mendapatkan teman sekamar yang relatif homogen dengan  kita, maka bisa anda mulai Ketika memilih KBIHU. KBIHU "A" mungkin mayoritas JH yang bergabung begini, KBIHU "B" begitu dst. Selanjutnya anda bisa berhubungan dengan pengurus KBIHU tersebut agar nama saya berurutan dengan si A, si B dst. Diluar upaya itu semua anda dituntut untuk memiliki tolerasi dan kesabaran yang tinggi agar selama pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan sesuai harapan kita.

Demikian….Semoga berbagi ini bermanfaat khususnya buat anda yang akan berangkat haji di tahun2 berikutnya.

Mekah, 12 Juli 2023

Jamaah Haji Indonesia 2023 

SUB 56, 


Supriyadi

Lebih baru Lebih lama