Prof. Abdul Mu'ti; Era Disrupsi Digital dan Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah


Prof. Abdul Mu'ti menjadi pemateri dalam peringatan Milad Muhammadiyah ke 109 yang diselenggarakan oleh PWM Jatim.

Dunia akan terkoneksi internet. Membuat perubahan di pranata sosial dan pranata budaya. Munculnya ini karena belum terbentuknya values baru.

Disrupsi membawa dampak kepada values yg ada karena ada Volatilitie, Uncertainty, Novely, dan Ambiguity serta Paradoks.

Banyak hal yg terjadi dalam bidang keagamaan itu karena disrupsi digital ini.

Misal perdebatan sholat Jum'at virtual menjadi sebuah perdebatan yang epik. Baik perdebatan pro maupun kontra menjadi suatu perdebatan yg menarik. 

Dengan alasan keterpautan menjadi alasan yg pro. Muncul pertanyaan bagaimana dengan sinyal yg buruk? Apakah konektivitas ini terjadi? Apakah sah sholat Jum'at nya?

Nah, kecanggihan teknologi ini yg bisa mengisi ruang kosong, tetapi ada ruang  yg tidak bisa diisi oleh teknologi.

Bolehlah teknologi membantu manusia, akan tetapi jelas ada limitation.

Ada fungsi-fungsi yang tidak bisa diisi oleh teknologi

Maka teknologi itu adalah instrumen, dan manusia yang menjadi aspek pengendalinya.

Konteks pembinaan yang menjadi ruang kosong yang tidak bisa diisi teknologi. Mungkin semua bisa belajar agama di internet. Namun, karena fitrahnya manusia adalah makhluk sosial. Pasti suatu saat manusia menginginkan ada pertemuan. Ini yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Contoh lain, google terjemahan tidak memiliki rasa bahasa, yang algoritma yang digunakan pasti memiliki kelemahan. 

Nah kelemahan ini yg digunakan untuk memanipulasi otak. Sistem memori kita dibentuk dari repetisi sehingga dengan algoritma tertentu akan menjadi sebuah cara untuk membentuk sebuah opini manusia.

Maka disrupsi akan menjadi distruksi, jika tidak memiliki dasar agama yang baik.

Ada anekdot, ada orang yg belajar menerbangkan pesawat, dia mengikuti operasional standar, ketika sudah terbang, ternyata operasional prosedur menurunkan tidak ada.

Inilah pentingnya Guru, Ulama sebagai pembina, sebagai pengarah, agar tidak terperosok kebenaran secara textual. 

"Yess it's matter, but it's not everything.."

Lalu bagaimana dengan banyaknya ilmu agama yg berserakan di internet?. Ya itu, karena yang mengisi di internet adalah mereka yang sebenarnya tidak punya institusi organisasional yang besar seperti Muhammadiyah dan NU.

Maka penting, untuk tetap menggerakkan pengajian-pengajian, baik itu di ranting maupun cabang dan di daerah. Namun ruang tengah donat yang kosong  itu harus diisi juga.

Cara gerak persyarikatan harus diubah. Harus dilakukan pembaharuan. Teknologi memang harus bisa membawa sebuah perubahan yang baik dalam pembelajaran agama.

Misal, memahami kisah nabi Nuh tidak hanya berkaitan dengan pendekatan tauhid saja, akan tetapi juga teknologi, misal kita bisa memahaminya sebagai sebuah ilmu  pengetahuan yaitu Mitigasi.

Jadi memahami kisah Nabi Nuh itu adalah sebuah pengetahuan mitigasi bencana, bahwa kita harus membuat persiapan menghadapi bencana alam.

Inilah sebuah kolaborasi antara teknologi dan manusia. (IG)







Lebih baru Lebih lama