Ternyata, K.H. Hasyim Asy'ari Tegas Dalam Ber-Agama

Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy'ari (1875-1947) merupakan pahlawan nasional Indonesia sekaligus pendiri Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Sejarahnya, ternyata beliau merupakan seorang pejuang dan penjaga akidah Islam ahlussunah wal jama'ah yang tegas menolak berbagai bentuk kemunkaran yang terjadi di masyarakat maupun dalam lingkungan pesantren yang beliau asuh. Namun waktu berjalan, banyak dari ajarannya yang mulai ditinggalkan pengikutnya.
Penulis terlahir, tumbuh dan terdidik dalam nuansa pendidikan khas Nahdlatul Ulama (NU) di Pulau Madura, Pulau dimana ketika orang menyebutnya maka akan segera terasosiasi atau identik dengan basis ormas terbesar di Indonesia tersebut, NU.

Ketika penulis mulai mengenal aliran Wahabi yang oleh sebagian orang (dengan kedangkalan pengetahuannya) dianggap mempunyai kesamaan dengan Muhammadiyah, penulis mulai bertanya dan membuka kembali buku-buku pelajaran dari pesantren salaf NU, maupun dari kalangan alumni pesantren tentang kekuatan aliran dan dalil-dalil yang menjadi pijakan NU.

Cerita tentang Yai Hasyim Asy'ari yang keras dan tegas mulai menggelitik pikiran penulis. Kemudian dilanjutkan dengan buku-buku yang ditulis, perkataan, dan perilaku murid-murid beliau yang dikenal oleh masyarakat secara luas.

Lalu penulis membandingkan secara umum apa yang diketahui dengan daerah Jogja tempat KH. Ahmad Dahlan ber-muamalah sehari-hari. Hingga penulis sampai pada suatu kesimpulan bahwa Yai Hasyim Asy'ari pada dasarnya menjalankan ide-ide Muhammadiyah, juga Kyai Ahmad Dahlan adalah NU kultural dalam kehidupan sehari-harinya.

Berikut tentang fakta-fakta seputar ketegasan gaya berpikir Mbah Yai Hasyim Asy'ari:

Pertama,

Beliau (Yai Hasyim Asy'ari) mengharamkan beduk berada di daerah Jombang saat itu. Karena beliau menganggap beduk adalah bid’ah dan Jombang sebagai daerah kekuasaannya secara hukum Islam. Pendapat ini sering dipertentangkan dengan pendapat Kiai pesantren Mas Kumambang Gresik yang mempunyai pendapat lain tentang beduk ini.

Sehingga diceritakan bahwa Kiai pesantren Mas Kumambang pernah menyuruh seluruh masjid di daerahnya untuk menurunkan dan tidak memukul beduk saat Yai Hasyim Asy’ari ingin berkunjung ke pesantrennya, demi menghormati pendapat Kyai Hasyim Asy'ari. Polemik mereka berdua dikabarkan berlangsung secara tulis menulis saling menguatkan dan mengkritik pendapat yang lain. Kabarnya, pesantren Mas Kumambang masih mempunyai naskah polemik itu.

Tetapi karena Pesantren Mas Kumambang sekarang beralih menjadi pesantren beraliran Muhammadiyah, atau bisa kita sebut puritan, maka naskah itu tidak dicetak atau bahkan terkucilkan karena keberadaan Mas Kumambang yang di Jawa Timur, dimana NU berjaya secara akademis dan kuantitas.

Kabar sebab keberbelokan pesantren Mas Kumambang dari NU atau aliran yang tidak membid’ahkan beduk dan semacamnya, adalah karena anak dari Kiai yang berpolemik dengan Hasyim Asy’ari itu belajar di Aceh dan bertemu dengan kaum Padri. Tetapi dimungkinkan juga karena dia tertarik dengan polemik yang terjadi antara Ayahnya dan Yai Hasyim Asy’ari tersebut.

Kedua,

Hasyim Asy’ari diketahui pernah mendatangi pesantren-pesantren di daerah Jawa Timur bagian selatan seperti Kediri -termasuk Lirboyo dll.-, Nganjuk dll. dan menegur kebiasaan pesantren yang dianggapnya perbuatan munkar. Meskipun cerita yang penulis dapat ini tentang kedatangan Hasyim Asy'ari dengan tujuan itu kadang dibuat bahan "canda" oleh beberapa pihak.

Seperti yang terjadi di pesantren Lirboyo, ketika Hasyim Asy'ari marah-marah karena di acara akhir tahun yang biasa dilakukan oleh Pesantrean, yakni ada sebuah acara -mungkin berkumpulnya perempuan dan laki-laki dalam sebuah kegiatan bersama seperti pencak silat atau sepak bola- yang dianggapnya munkar.

Kabarnya dia sempat memukuli para santri dengan tongkatnya. Meskipun para santri menghentikan acara itu, tetapi setelah Hasyim Asy'ari tenang dan dibawa masuk rumah/ndalem oleh pengasuh dan tidak mendengar atau melihat tempat acara itu, Kiai Lirboyo itu keluar dan bilang kepada santri-santrinya: Silahkan diteruskan acaranya, Yai Hasyim sudah tidak melihat.

Mungkin karena ajakan untuk merubah kebiasaan/adat pesantren dan masyarakat itu tidak berhasil secara power (tangan dalam bahasa hadis), maka Hasyim menulis buku yang berjudul "Munkaroot al-Mawaalid". Disitu dia menjelaskan bahwa hal yang mendorongnya untuk menulis adalah kejadian di masyarakat dan pesantren yang menurutnya perlu diluruskan.

Diantara hal yang dia sebut di buku itu adalah: pencak silat, sepak bola, dan tradisi maulidan yang dianggapnya tidak bisa lepas dengan kemunkaran-kemunkaran seperti percampuran laki-perempuan bukan muhrim dll. Sehingga untuk menjaga hal itu -dengan memakai kaidah fikih sad al-zarii’ah, beliau melarang maulidan.

Meskipun para Kiai pesantren saat ini (masa selanjutnya) mentafsirkan bahwa maulidan boleh tetap ada asalkan bersih dari kemunkaran, tapi menurut penulis perlu diperjelas lagi alasan lain yang dituturkan oleh Hasyim asy’ari yang mungkin identik dengan maulidan yang berjalan di Indonesia atau jawa khususnya.

Hasyim Asy'ari pelaku amar ma’ruf nahi munkar secara power, yakni padri, puritan, dan dekat dengan Muhammadiyah daripada dengan NU.

Ketiga,

Kyai Hasyim Asy'ari berwasiat melarang hari kematiannya untuk diperingati dengan acara yang biasa disebut haul. Sampai saat ini tampaknya tidak ada kalangan NU yang mencoba mengadakan acara haul atas kematian Hasyim Asy'ari.

Mungkin saja ada kelompok kecil, tapi tidak sebesar namanya sebagai pendiri NU kalau dibandingkan pesantren lain yang mengadakan haul Kiai pendiri pesantren itu secara rutin tiap tahun dan mendatangkan banyak hadirin, bahkan puluhan ribu di beberapa pesantren besar yang ber-afiliasi dengan NU.

Alasan yang diungkapkan oleh penerus NU adalah karena Hasyim Asy'ari tidak mau dikultuskan, jadi kalau pengkultusan tidak terjadi, haul tetap boleh berjalan atas kematian Kiai lain. Tetapi bukankah alasan kultus itu yang menjadikan haul menjadi bid’ah atau bahkan dilarang oleh kalangan Muhammadiyah atau puritan?, dan bukankah pengkultusan itu merupakan wujud dengan adanya haul itu sendiri?. Jadi, haul dan pengkultusan adalah merupakan sesuatu yang identik. Hal ini, menjadikan Kyai Hasyim Asy'ari se-ide dengan Muhammadiyah tentang puritanisme.

Keempat,

K.H. Hasyim Asy’ari melarang tarekat masuk di pesantren yang dia asuh. Meskipun penerusnya ada yang memasukkannya. Dan meskipun alasan yang diterima oleh santri Tebuireng sekarang adalah karena agar para santri fokus dalam belajar. Tetapi muridnya yang ada di pesantren Langitan, Yai Ahmad Marzuqi Zahid, juga melarang santrinya untuk melakukan wirid-wirid kejadugan. 

Pertanyaannya sekali lagi, apakah yang dimaksud Mbah Yai Hasyim adalah bahwa tarekat itu identik dengan gangguan?, kelihatannya Iya, karena itu dia melarangnya, tidak berusaha memilahnya. Dan santrinya yang berada di Senori Tuban, Mbah Fadhol adalah penolak secara jelas rajah-rajah atau jimat atau doa-doa yang tidak dikenal dalam hadis. Bahkan memusyrikkannya apabila rajah-rajah itu tidak dikenal artinya (bisa dibaca dalam bukunya thib an-nabawy dan dur al-fariid).

Kelima,

K.H. Hasyim Asy'ari memasukkan ilmu-ilmu umum seperti bahasa dan lain-lain di pesantrennya, bahkan dia memanggil guru dari luar pesantren untuk mengajari anak-anak dan santrinya. Penyatuan ilmu agama dan modern yang dicita-citakan Muhammadiyah telah dia jalankan, bahkan pada keluarganya. Kita mengetahui bahwa anak-anak Hasyim Asy’ari hanya mendapat pendidikan agama di rumahnya sendiri dari Hasyim dan guru pesantren lain. Dalam penddidikan formal, anak-anak mbah Yai Hasyim Asy’ari tidak ada yang mengenyam pendidikan pesantren secara formal dan tuntas.

Anak terakhirnya, Gus Ud misalnya adalah seorang tentara yang dianggap kurang terampil mengurus pesantren sebagai seorang Kiai NU yang sejatinya harus piawai ngaji kitab kuning. Begitu juga Putra Yai Hasyim Asy'ari yang lain, tidak ada yang pernah mengasuh pesantren. Tujuan Muhammadiyah untuk menggabungkan ilmu modern dan agama itu sejatinya telah dijalankan oleh K.H. Hasyim Asy'ari.

Begitu juga pendekatan Ahmad Dahlan untuk tidak mendirikan pesantren, tetapi membawa pelajaran pesantren ke sekolah atau perguruan tinggi umum. Sebagaimana kita tahu, pesantren dua pendiri NU, Hasyim Asy'ari dan Wahab Hasbullah saat ini dikenal sebagai pesantren modern yang mempunyai sistem kelas dan pelajaran umum/non-agama berdasarkan kurikulum departemen agama atau pendidikan. Sehingga siswa-siswinya tidak berbeda dengan sekolah-sekolah Islam lainnya. Allahu'alam.


ditulis oleh:
Ust. Muhyi Abdurrohim
Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Fanani Jember; Pendidikan MI, MTs, MA di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Al-Ihsan Jrangoan Omben Sampang, Madura; Saat ini sedang menempuh studi Pasca-Sarjana di IAIN Jember.