Kajian Negara Pancasila Dar Al-'Ahdi Wa Al-Syahadah

Kajian negara Pancasila sebagai dar al-'ahdi wa al-syahadah
Kajian negara Pancasila sebagai dar al-'ahdi wa al-syahadah oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di UMM 06/08/2016
Sabtu, 6 Agustus 2016, Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) PDM Jember menghadiri undangan MTT PWM Jawa Timur dalam Kajian Kebangsaan dengan Tema "Negara Pancasila sebagai Dar Al-'Ahdi wa Al-Syahadah".

Kajian yang diselenggarakan di Hall IMM Inn ini merupakan hasil kerjasama MTT PWM Jatim dgn Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM.

Hadir sebagai pemateri, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr. Abdul Mu'ti M.Ed, Wakil Ketua PWM Jatim Dr. Syamsuddin dan Dr. Tongat, MHum., pakar hukum dari Universitas Muhammadiyah Malang.

Diskusi kebangsaan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara.

PDM Jember dalam acara ini diwakili oleh Ketua MTT PDM Dr. Safrudin Edi beserta sekretaris Ust. Muhyi Abdurohim, SThI. Selain itu juga dihadiri seluruh Majlis Tarjih dan Tajdid PDM se-Jawa Timur.

Acara terdiri atas 2 sesi. Sesi pertama diisi oleh Wakil Ketua PWM Jatim Dr. Syamsuddin serta Dr. Tongat. Setelah istirahat sholat Dzuhur, dilanjutkan sesi kedua oleh pemateri Dr. Abd. Mu'ti, M.Ed dengan moderator Boy Pradana ZTF, selaku Ketua PSIF UMM yang juga sebagai ketua PWPM Jawa Timur tersebut.

Pada Kajian Kebangsaan yang membahas Negara Pancasila sebagai Dar Al-'Ahdi wa Al-Syahadah, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah menyatakan, "Muhammadiyah mendukung terciptanya Islamic society, bukan Islamic State."

Konsekuensinya adalah, gerakan muhammadiyah bergerak bottom up, bergerak secara kultural,  tidak bergerak top down.

Abdul Mu'ti juga menegaskan bahwa Muhammadiyah itu lebih bergerak untuk melakukan substansialisasi ajaran Islam bukan hanya formalisasi Islam. Menurutnya 'content' itu lebih penting dari hanya sekedar 'format'.

Masalah kebangsaan atau bernegara dalam pandangan Muhammadiyah, lanjut Mu'ti merupakan bidang Muamalat Duniawiyah bukan masalah Ibadah mahdhah.

Hal itu sesuai dengan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah.

Setiap ayat Allah dalam al-Qur'an itu memerlukan penafsiran yang komprehensif, bukan hanya tekstual. Oleh karenanya diperlukan "maqashid syariah" dalam memahami ayat-ayat Tuhan.

Hal ini bukan berarti Muhammadiyah menolak ayat al-Qur'an, tetapi makna konstekstual lebih diutamakan.

Di akhir diskusi, Abdul Mu'ti berpesan kpd seluruh warga Muhammadiyah untuk ikut berbuat untuk negeri. Karena makna dar-Al-Syahadah itu berani menunjukkan jati diri Islam serta membuktikan bahwa umat Islam itu lebih baik dari umat lainnya. (*)


foto & liputan Maghfur EM