Mengelola Nalar dan Insting

Tips mengelola insting dan nalar
Nalar dan insting manusia adalah wujud kesejatian dari keunggulan makhluk Tuhan, namun hal itu masih membutuhkan pengelolan agar menjadi sebagaimana yang diharapkan.
Manusia diberi kemampuan yang tidak terbatas.  Menyelam ke dalam lautan atau terbang tinggi ke angkasa. Membelah gunung, menerobos batuan sedimen alam. Semakin berat tantangan yang dihadapi, semakin besar potensi mengatasinya.

Batasan manusia adalah pikirannya. Selama pekiran masih berfungsi, otak kreatif masih bekerja, tidak ada kemustahilan.  Sudah menjadi hal yang biasa,  inovasi terjadi terus menerus. Memungkinkan kita memproduksi sekaligus mengkonsumsi produk baru.

Sebenarnya apa yang menggerakkan manusia memaksimalkan kerja otaknya?, Berinovasi tanpa henti?, Memproduksi barang baru setiap hari?, Membuat diferensial antar lini produksi?.

Sebelum menjawab semua pertanyaan itu, penulis akan berikan perumpamaan. Anak ayam ketika masih baru menetas, yang dicari adalah induknya. Insting anak ayam sangat kuat memaksa si induk ayam juga melindunginya. Tapi setelah dewasa, si ayam kecil yang awalnya dilindungi,  justru akan diserang habis-habisan. Bahkan ketika musim kawin tiba, anak ayam yang sudah dewasa dan induk ayam akan bersaing mengambil hati sang pejantan.
 
Penjelasan, induk ayam adalah hewan cerdas. Selain diberikan Insting keibuan, ia juga diberi Insting tentang masa depan, yaitu persaingan. Maka induk ayam tidak memanjakan anak ayam yang sudah dewasa. Sebaliknya diberinya kesempatan mereka hidup sendiri secara mandiri.

Anak ayam dewasa pun tak mau kalah. Ketika saatnya mereka kawin, pola asuh sang induknya dahulu, ia lakukan pula kepada anaknya. Sehingga ini membuat skema mekanisme hidup ayam yang teratur dan konsisten.

Bagaimana dengan manusia?, Manusia dikaruniai insting/naluri (instinct) dan nalar (reasoning). Kedua logika ini memiliki keunggulan masing-masing. Tidak ada manusia yang secara Insting sangat kuat lantas tidak memfungsikan otak kiri.

Sebaliknya, fungsi otak rasional tidak bisa diforsir sepenuhnya alih-alih memungkiri insting otak kanan.

Keduanya menjadi alat ampuh bagi manusia dalam memaksimalkan potensi kehidupan. Untuk mencapai imajinasi tertinggi manusia terus belajar dan mengasah kemampuannya, baik secara formal maupun informal. Motivasinya adalah aktualisasi diri.  Motivasi lainnya adalah ekonomi. Dan puncaknya adalah politik, yaitu hasrat berkuasa atas orang lain.

Semakin beragam pikiran, maka keputusan yang diambil juga tidak terbatas. Berbeda dengan ayam, manusia adalah hewan yang berpikir. Pemikiran rasional inilah yang memosisikan manusia ditempat tertinggi diantara semua mahluk.  Bisa dipastikan tidak ada inovasi seandainya manusia hanya menggunakan Insting. Misalnya, ketika insting lapar bekerja, maka manusia akan mencari cara agar kenyang. Ketika Insting seksual menggelora maka manusia akan mencari pelampiasan untuk meredakan gairah.

Bisa dibayangkan jika Insting manusia mendominasi. Otak dan daya nalar tidak difungsikan. Beragam perilaku manusia yang hewani akan merajalela. Memenuhi koran pagi dan berita televisi dengan ragam kriminalitas.  Pemaksaan seksual dan perebutan hak orang lain dengan paksa menjadi lumrah. Tatanan masyarakat kembali ke masa bar-bar. Sungguh tragis.

Pada masa kini, uang menjadi libido. Uang menjadi alat hegemoni. Uang menjadi sumber inspirasi. Uang menjadi alat pemuas kebutuhan manusia. Sampai ada pepatah, "uang bukan segalanya namun segalanya butuh uang."

Maka jelaslah sudah, bahwa pikiran rasional dan Insting manusia masa kini sepenuhnya digerakkan oleh uang. Bisa dipahami, mengapa orangtua memasukkan anaknya ke sekolah terbaik. Membiayai hingga lulus dari perguruan tinggi. Atau seorang pria menikahi perempuan pilihannya dengan berharap menjadi lantaran turunnya rizki.

Besarnya modal pengusaha mensyaratkan besarnya keuntungan. Dan hasil karya pemikiran dapat menghasilkan produk yang bisa menghasilkan kesejahteraan. Uang menjadi raja atas segala sesuatu. Tidak bisa menolak anggukan terpaksa kita terhadap orang yang keluar dari mobil mewah. Dengan terpaksa pula kita menyetujui permintaan tak masuk akal dari seorang dokter gadungan.

Bahkan kita sering terkecoh oleh omongan "bullshit" oknum berpakaian rapi dan necis. Sangat logis, mereka adalah Orang-orang terlatih yang akan mengelabui kita. Membohongi manusia bodoh yang tidak bisa memilih antara benar dan salah. Kita mudah terpikat oleh manisnya senyum, pakaian rapi, mobil mewah, dan titel dibelakang nama.

Beruntung, kita masih bisa memilih. Mendahulukan Insting atau nalar?, Keduanya bisa dipakai dengan porsi yang sesuai. Adalah berada ditengah laut, kapal lebih tenang mengarungi samudra. Berada ditengah lapangan memberikan keleluasaan bagi wasit memimpin pertandingan sepak bola. Keputusan ada ditangan anda. Bijaklah memimpin Insting dan nalar secara proporsional dan manusiawi. (*)

ditulis oleh
Kalbar Zulkarnain
Redaktur Majalah ISTISMAR
Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PDM kab. Jember
Kontak Telegram, 085 652 283 832.