Pak Iman, Tak Bosan Kampanyekan Baca Tulis

pak iman suligi pegiat kampung baca jember
pak iman suligi pegiat kampung baca jember
Karir boleh pensiun, usia boleh menua, tapi semangat berjuang untuk mencerdaskan ummat tidaklah lekang oleh waktu.

Begitulah sekilas sosok yang terpancar dari diri pak Iman Suligi. Diusia yang mulai senja ini, beliau tidak hanya diam menikmati masa tua. Akan tetapi terus mengisinya dengan 'kampanye positif' seputar budaya literasi.

Pak Iman yang juga pemilik sekaligus pengelola sanggar baca "Kampoeng Batja" yang beralamat di jalan Nusa Indah VI nomor 7 ini, tidak bosan dan tidak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk menjadikan literasi (baca tulis) sebagai bagian daripada habits (kebiasaan).

Hal ini juga dilakukan oleh pak Iman pada hari Jum'at 13 Mei 2016 dengan melakukan 'On Air' di radio RRI Pro 1 Jember. Diskusi 'on air' di radio diharapkan mampu menularkan semangat baca tulis kepada segenap lapisan masyarakat di penjuru kabupaten Jember.

Ditemani dua orang, antara lain Mas Nurul, dosen Sosiologi FISIP Univ. Jember yang juga pegiat komunitas literasi 'Kedai IMAJI' dan satu lagi, Fahrudin R., selaku writerpreneur yakni pelaku 'bisnis menulis' di internet, diskusi On-Air berjalan 'gayeng'.

Diskusi dipandu oleh mbak Dewi dari RRI Pro 1 bertujuan memberikan pemahaman kepada publik bahwasannya aktivitas membaca dan menulis tidak hanya terbatas dibangku sekolah saja.

Dimanapun dan kapanpun, baca tulis harus menjadi perilaku positif yang sudah menyatu dalam diri seseorang. Hal ini diakui, menurut mas Nurul, budaya baca bangsa Indonesia masih rendah.

Anak usia sekolah, remaja produktif hingga dewasa, kini dibombardir dengan budaya audio visual melalui media televisi dan maupun kecanggihan gadget (smartphone atau tablet) yang mulai mudah diakses oleh publik.

Akibatnya, tingkat pengetahuan seseorang tidak selalu linear dengan tingkat pendidikan yang telah diperolehnya. Bukan isapan jempol, buktinya, tidak jarang mahasiswa tingkat akhir yang mengalami banyak kendala dalam penulisan karya ilmiah skripsi.

Kondisi semacam ini ditangkap oleh mas Nurul dengan Kedai IMAJI-nya agar mahasiswa lebih mudah dalam menyelesaikan tugas akhir melalui program yang diberi nama 'bengkel skripsi'. Program ini berlangsung tiap hari Senin malam dan Jum'at malam bertempat di kompleks Pujasera Dapur Coklatku, Jl. PB. Sudirman.

Pak Iman, mas Nurul dan Fahrudin berkeyakinan bahwa kualitas suatu keadaban masyarakat ditentukan seberapa besar minat baca tulis masyarakat itu sendiri. Semakin tinggi daya baca seseorang, semakin besar pula peluang mereka untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang bermanfaat untuk umat manusia.

Semangat pak Iman dan kawan-kawan ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi muda giat membaca dan menulis. Sehingga pada akhirnya, kualitas masyarakat Jember secara otomatis menjadi lebih baik dan bermartabat. Semoga!. (*)


foto & liputan Fahrudin R.