Sehat Dengan "Manna wa Salwa"

Sehat dengan manna wa salwa, sayur dan daging organik
Sehat dengan manna wa salwa, sayur dan daging organik, ilustrasi by GoogleImage
Setiap memberi kultum tentang makanan sehat, tentang bahaya makanan instan, sayur dan buah transgenik, saya melihat jamaah tampak pesimistis. Sebagian apatis. Bahkan ada yang nyeletuk, "trus kita makan apa?", Tapi masih banyak yang memelihara semangat dan harapan lalu bertanya: bagaimana solusinya kalau sudah begini?.

Pada suatu Pengajian Ahad Pagi, sang penceramah menyampaikan begini, Kalau kita membaca sejarah Nabi Musa AS sungguh luar biasa perilaku Bani Israil. Awalnya mereka jadi budak bangsa Mesir, terhina dan tertindas.

Lalu dengan ijin Allah SWT, diselamatkan oleh Nabi Musa AS, melewati perjalanan yang dramatis ditengah laut yang terbelah. Selamat dari kematian mereka dihadapkan pada kondisi kelaparan. Lalu mereka menyuruh Musa AS agar berdoa minta jaminan makanan turun dari langit. Maka Allah SWT mengabulkan.

Datanglah Manna dan Salwa

Manna itu sayuran yang masih alami, sayur organik. Sedangkan Salwa itu hewan alami alias hewan organik.  Dalam istilah sekarang adalah makanan organik atau 'rawfood' yang alami dan belum terkontaminasi zat kimia dikabulkan.

Tidak mengandung 5P, pengawet, penambah rasa (MSG), pewarna, pestisida, plastik. Dan bukan hasil rekayasa genetika atau transgenik.

Sampai pada suatu hari mereka menghadap Musa AS, wahai Musa, kami bosan dengan makanan ini. Kami ingin variasi. Nabi Musa AS menjawab, "Apakah engkau akan mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang lebih rendah?",  kalau itu yang engkau inginkan maka pergilah ke kota, engkau akan mendapatkan makanan yang beraneka ragam.

Subhanallah, bukankah sikap Bani Israil terhadap makanan itu cerminan kehidupan kita saat ini?, kita yang suka makanan dengan rasa 'wah' dan berselera tinggi. Makanan dengan aneka penyedap rasa. Makanan yang mementingkan rasa. Junkfood, fastfood, makanan-makanan modern, makanan gaya eropa, dll. Maka tumbuh suburlah wisata kuliner di negeri ini.

Jadi kalau ingin makanan yang lezat-lezat maka datanglah ke kota. Kalau di gunung rasanya kurang sedap karena tidak ada penambah rasa. 

Sungguh ajaib, ternyata Allah sudah memberi informasi bahwa kelak, bila kita mengejar makanan dengan mementingkan rasa, kondisi kita akan menurun. Masyarakat sudah tidak peduli lagi terhadap isu haram, isu babi, bahkan isu bangkai. Asalkan bisa memanjakan lidah dan perut.

Kisah Jerry D. Gray, bahwa ia dan keluarganya dulu hidup di desa di Amerika. Semua makanan diolah secara manual. Ditanam dan diolah sendiri. Sayuran segar, buah segar. Dan tidak banyak olahan dengan panas. Mereka sehat. Hampir tidak pernah keluarganya sakit. Begitu mereka pindah ke kota maka mereka menjadi rajin periksa dan berobat ke layanan kesehatan.  Kini dia dan keluarganya berusaha keras kembali ke makanan alami.

Situasi dan kondisi saat ini, siapakah yang diuntungkan?, Jadi kenapa tidak kembali ke alami saja? Back to nature, back to sunnah, back to Quran. (*)


Ditulis oleh :
Wahyudi Widada, M.Ked
Dosen Fikes Unmuh Jember
Anggota MPKU PDM Kab. Jember 2015-2020

Pemilik Rumah Bekam AlKahil
Villa Tegalbesar F 22 Kaliwates
082336452920