ADVERTISEMENTS

Ahad Ceria Sumbersari Uraikan Makna Imtisal al-awamir wa Ijtinab al-nawahi

Dr. Safruddin Edi, Lc, MAg saat memberikan tausyiyah di hadapan warga Muhammadiyah Sumbersari
Puasa merupakan ibadah khusus yang unik yang diperintahkan Allah SwT kepada umat manusia sejak sebelum Nabi Muhammad diutus. Hal ini disampaikan oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jember Dr. Safruddin Edi W, Lc, MAg pada acara Ahad Ceria PCM Sumbersari di halaman Universitas Muhammadiyah Jember pada Ahad (28/5/2017) lalu.

Dalam tausyiyahnya, dosen IAIN Jember ini menjelaskan bahwa perintah ibadah yang diperintahkan oleh Allah SwT semuanya memiliki tujuan kenapa ibadah itu disyariatkan.  Semisal perintah sholat, dimana tujuan disyariatkannya adalah untuk mengingat Allah (dzikrullah). Akan tetapi, fenomena di masyarakat saat ini terbalik. Seringkali sholat yang tujuan utamanya mengingat Allah terkesan menjadi seremonial gerakan saja, karena dilakukan dengan cepat bahkan terkesan terburu-buru, akan tetapi kegiatan dzikir setelah sholat bahkan bisa berlama-lama.

“Sholat yang sukses itu salah satu indikatornya adalah mampu menjadikan personal mencegah perbuatan keji dan munkar,” ungkap Dr. Safruddin.

Sementara itu, ibadah puasa Ramadhan memiliki keunikan tersendiri menurut Dr. Safruddin. Karena menurutnya ibadah yang lain merupakan ibadah aktif (al imtisal bil awwamir) semisal sholat, ada tuntunan gerakan sholat dari takbiratul ihram hingga salam. Zakat, infaq dan shodaqoh juga merupakan kegiatan aktif mengeluarkan sebagian harta kita sebagai pembersih.

Sedangkan kewajiban puasa Ramadhan merupakan ibadah pasif (al ijtinab al-nawahi) dimana Allah SwT memerintahkan kita untuk menahan diri tidak melakukan apa-apa yang selama ini dibolehkan, diantaranya makan, minum, serta berhubungan suami-istri.

Dalam tausyiyahnya, Dr. Safrudin juga mengajak warga Muhammadiyah untuk mengisi kegiatan Ramadhan dengan agenda berkemajuan yang selama ini kurang digemakan, diantaranya tradisi ifthar, berbuka bersama. Selama ini kesannya adalah kita hanya menitipkan takjil kepada lembaga, yayasan atau orang lain untuk disalurkan. Menurut Dr. Safrudin ini harus mulai dirubah dengan cara membawa makanan berbuka ke masjid dan makan bersama dengan orang lain di masjid. Selain itu tradisi tarawih membaca surat dengan qiro’ah dan durasi yang panjang.

“Karena sholat adalah momentum dzikir, maka coba tarawih dengan 1 juz tiap malamnya,” imbau pria asli Temanggung ini.

Lalu, menurut beliau juga harus dikenalkan dengan sholat iftitah, sholat ringan 2 rokaat sebelum tarawih dilaksanakan. Dan yang terakhir, warga Muhammadiyah harus dibiasakan dengan iktikaf di 10 hari akhir Ramadhan.


Hadir dalam Ahad Ceria PCM Sumbersari para pimpinan cabang dan ranting seluruh Sumbersari, tampak hadir pula Rektor Unmuh Jember Dr. Hazmi, DESS serta sesepuh Muhammadiyah Kyai Bahruddin. ● maghfur

Post A Comment

ADVERTISEMENTS