Memadamkan Cahaya Allah

islam cahaya allah
Cahaya Allah Tak Akan Pernah Bisa Dipadamkan
Kurang lebih 1406 tahun yang lalu Allah berfirman melalui lisan Rosulnya Muhammad SAW dalam Q.S. At-Taubah : 32,
يريدون أن يطفئوا نور الله بأفواههم ويأب الله إلا أن يتم نوره ولو كره الكافرون
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”.

Ayat tersebut secara subtansi sama dengan Q.S. Ash-Shof : 8 meskipun dengan redaksi sedikit berbeda :
يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم و الله متم نوره ولو كره الكافرون
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.

Siapakah yang dimaksud “mereka yang ingin memadamkan cahaya Allah” itu ? Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebut kelompok “musyrikun” dari masyarakat Arab faham paganis, dan kelompok “ahlul kitab” dari Yahudi dan Nasrani. Lebih luas Quraisy Shihab menyatakan bahwa mereka itu bukan saja ahlul kitab dari kelompok Yahudi maupun Nasrani, tapi dewasa ini berkembang mencakup kelompok Sekuler dan Atheis. Bahkan menurut hemat peneliti bisa jadi mereka adalah kelompok Agnostik, meskipun mengaku beragama Islam. Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan “cahaya Allah itu” ? Lagi-lagi Quraisy Shihab menyatakan bahwa yang dimaksud cahaya Allah itu adalah agama atau ajaran Islam. Lantas bagaimana “mereka” itu memadamkan cahaya Allah ? Setidaknya penulis menemukan 3 model strategi mereka dalam upayanya memadamkan cahaya Allah, yaitu : pertama, dengan menyerang pembawa risalahnya. Pembawa risalah itu adalah Nabi Muhammad dan Beliaulah yang diserang pertama kali untuk memadamkan Api Islam. Dizaman klasik serangan itu bisa ditemukan dalam Al-Qur’an seperti ilustrasi berikut :
فذكر فما أنت بنعمة ربك بكاهن ولا مجنون . أم يقولون شا عر نتربص به ريب المنون. (الطور : 29-30)
“Maka Tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung (dukun) dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan : Dia (Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.

Kelompok paganis dan ahlul kitab Arab pra Islam menuduh nabi Muhammad sebagai dukun, orang gila, atau yang paling sopan menyebutnya sebagai tukang Syair. Mereka menuduhnya begitu karena semua informasi Muhammad adalah benar, dan mereka faham akan kebenaran itu, namun mereka
menolak kebenaran tersebut. Q.S. An-Nisa’ : 46 dan Q.S. Al-Baqoroh : 93 menegaskan perkataan mereka سمعنا وعصينا (kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya).

Bagaimana serangan terhadap sang pembawa risalah hari ini ? Gustave Weil (1843-1889 M) menganggap Nabi Muhammad mengidap penyakit epilepsi/ayan. G. Margoliouth (1858-1940 M) menambahi dengan merinci ciri-ciri dari epilepsi Nabi seperti : bercucuran keringat, pusing, dan kadang-kadang jatuh pingsan. Aloys Sprenger dalam Das Leben Und Die Lehre Des Mohammed (1861-1865 M) mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW menderita penyakit histeria. William Muir mempertahankan pandangannya bahwa Muhammad adalah false prophet (nabi palsu), sementara Dante Alighieri (sastrawan Itali 1265-1321 M) dalam karya bersejarahnya “Divine Comedian” mencitrakan Muhammad SAW sebagai “Mahound” (sang Iblis). Bahkan pada September 2005 sebuah media massa Denmark, Jylland Posten menayangkan 12 karikatur Nabi dengan nada peyoratif dan provokatif. Naudzubillah min dzalik... Padahal seorang orientalis lain William Montgomery Watt yang diklaim sebagai islamolog objektif dan paling simpatik terhadap Islam dan Theodor Noldeke (1836-... M) mengkritik Gustave Weil dan Aloys Sprenger dengan pernyataannya “Sekiranya Muhammad tidak normal, tidak akan ada orang yang senang pada ajaran agamanya, terutama pada masa hidupnya”. Meski para orientalis menyerang sang pembawa risalah, tapi Allah makin menunjukkan terangnya cahaya islam dan Nabi pembawa risalah dari orang orientalis sendiri. bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berahir dengan memeluk cahaya Islam tersebut.
Bagi umat islam yang meyakini Al-Qur’an, terdapat ilustrasi keagungan akhlaq Nabi (pembawa risalah) lewat Q.S. Al-Ahzab : 21. Dalam Q.S. At-Taubah : 128 eksistensi kenabiannya dijelaskan :
لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Karena nabi (Muhammad) dari kaumnya sendiri tentu mereka mengenal sosok Muhammad, yang di Q.S Al-Baqoroh : 146 dan Q.S. Al-An’am : 20 digambarkan :
الذين ءاتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم. وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri Al-Kitab (Taurot dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”.

Oleh karena itu, tidak heran jika seorang pendeta Nasrani bernama Buhairo menyuruh Muhammad dan pamannya Abu Tholib untuk pulang demi keselamatan Muhammad dimasa kecilnya karena ia telah melihat tanda-tanda kenabiannya melalui Injil yang masih otentik dan genuin. Kejadian ini seakan mendapat legitimasi dari Q.S. Ash-Shof : 6 berikut :
وإذ قال عيسى ابن مريم يبنى إسرءيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التورة ومبشرا برسول يأتى من بعدي إسمه أحمد
“Dan ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata “hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurot, dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang Rosul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad)”.

Dalam Injil Yohannes XIV : 15-16, dinyatakan bahwa Isa Berkata : “Jikalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa dan ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain supaya ia menyertai kamu selama-lamanya”. Teks Injil ini sejalan maknanya dengan yang digambarkan oleh Injil Matius IV : 11. Banyak ulama yang memahami teks ini bahwa seorang penolong itu adalah Muhammad dan kalimat “akan menyertai kamu selama-lamanya” berarti kelanggengan risalah nabi Muhammad SAW sampai akhir zaman. Begitu dekat dan kenalnya mereka dengan sosok Nabi akhir zaman itu bahkan termuat dalam kitab mereka sendiri (baik taurot maupun Injil), namun apa respon mereka ? Berimankah mereka ? Ayat itu dilanjutkan dengan فلما  جاءهم بالبينت قالوا هذا سحر مبين “Maka tatkala Rosul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata (Mukjizat), mereka berkata “ini adalah sihir yang nyata”.

Kedua, dengan menyerang risalah yang dibawanya, yaitu Al-Qur’an atau ajaran Islam. Pada pertengahan tahun 2005, beberapa tentara Amerika di penjara Guantanamo Cuba dilaporkan telah menginjak-nginjak dan merobek Al-Qur’an serta mengeluarkan cacian terhadap Islam. Kasus pelecehan Q.S. Al-Maidah : 51 oleh tersangka Basuki Cahaya Purnama di kepulauan seribu Indonesia justru semakin menampakkan cahaya Islam dengan aksi solidaritas muslim yang dikenal dengan 411 dan 212 di Jakarta. Berikutnya aktivis yang tergabung dalam PMKRI menggugat Q.S. Al-Ikhlas : 3 yang disampaikan Habib Rizieq sebagai penistaan agama Kristen. Ternyata dengan begitu ayat Al-Qur’an/cahaya Allah semakin tenar dan tersebar. Bahkan ramai di jejaring sosial Whatshap klip film protes wanita Hindu India yang menolak hijab dengan membakar jilbab sebagai simbol perlawanan, ternyata cahaya Allah makin nampak dengan terbakarnya sang pembakar jilbab tersebut.

Kajian Al-Qur’an dan Islam di kalangan islamolog menunjukkan kuantitas yang tidak sedikit. Indikatornya adalah ramainya studi Al-Qur’an dalam wacana dan literatur islamologi barat. Nurfadhil A. Lubis menyebutkan sebagian besar Universitas di Amerika Serikat (bahkan hampir
menyeluruh di Universitas barat) mempunyai program khusus Quranic Studies. Studi kritis Al-Qur’an merupakan menu utama sekaligus merupakan kajian paling sensitif dibanding dengan kajian lainnya. Kajian-kajian tersebut mulai dari yang menstigmakan Islam secara negatif seperti contoh-contoh diatas, namun juga ada yang objektif-positif. Di Indonesia sendiri nama Christian Snouck Hurgronje (1857-1906 M) sangat tenar. Ia menulis tentang Al-Qur’an dalam bahasa Belanda. Dialah yang menyarankan dan dianggap paling berjasa bagi A.J. Wensinck untuk membuat indeks hadis yang kemudian kita kenal dengan kitab  المعجم المفخرث لألفاظ الحديث dan dikembangkan dengan sofwer Maktabah Syamilah. Regis Blachere dalam Le Probleme de Mahomet (1952 M) menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya sumber representatif, valid dan dapat dipercaya. Sementara Hamilton A.R. Gib berpendapat :
“Kalau memang Al-Qur’an itu merupakan hasil karya sendiri manusia (Muhammad), orang lain akan dapat menandinginya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seni yang menyerupai Al-Qur’an, kalau sampai sekarang mereka tidak mampu untuk menandinginya, sewajarnya mereka menerima Al-Qur’an sebagai bukti kuat kemukjizatan Muhammad SAW”.

Perkembangan terakhir beberapa gereja menunjukkan penghargaan positif terhadap Islam, Nabi Muhammad dan Al-Qur’an seperti yang termaktub dalam dokumen Vatikan II (Zaman Kita).

Ketiga, dengan menyerang yang diberi risalah (yaitu umat islamnya). Terutama pasca tragedi WTC 11 September 2001 dan meledaknya bom di Bali pada 2002 oleh 3 serangkai (Imam Samudra, Mukhlas, dan Ali Ghufron) membuat barat dan non muslim yang benci dengan Islam semakin menemukan momentum untuk menstigmakan Islam sebagai agama teroris serta agama kekerasan. Dibalik stigma teroris tersebut bahkan diperkuat dengan statemen Presiden Amerika George W Bush “You are with me or you are with terroris”. Justru masyarakat AS sendiri memburu dan membeli Al-Qur’an karena tidak percaya dengan propaganda presidennya sendiri. Al-hasil, dengan berinteraksi langsung dengan Al-Qur’an migrasi agama masyarakat AS ke Islam makin banyak, hingga membuat pemerintah AS kuatir dan melakukan kebijakan pembatasan penjualan dan pencetakan Al-Qur’an. Begitulah salah satu cara Allah memenangkan cahaya-Nya. Idris Mahmudi