Asah Semangat, Calon Hafidz Bertemu Hafidz Cilik Panca

Hafidz cilik - Santri MBS Al-Mukhtar berfoto bersama hafidz cilik Panca
Selalu ada cara untuk mengasah motivasi anak didik agar lebih bersemangat dalam menuntut ilmu. Tidak terkecuali dalam hal menghafal kitab suci Al-Qur'anul karim. Berbagai upaya harus terus dilakukan demi hasil yang maksimal.

Begitupula yang dilakukan oleh ustadz-ustadzah serta pengasuh Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al-Mukhtar SMPM 9 Watukebo yang mengajak para santrinya untuk nonton bareng film Surga Menanti di gedung Aula Ahmad Zaenuri Universitas Muhammadiyah Jember, Ahad (8/1/17).

Tak disangka, ternyata film yang juga diperankan oleh Umi Pipik tersebut mampu mengaduk-aduk bathin rombongan nonton bareng yang terdiri dari 18 orang (12 santri, 4 orang ustadz/dzah dan 2 orang wali santri) tersebut. Bagaimana tidak, ternyata alur cerita dalam film tersebut mirip dengan kenyataan yang dialami oleh salah satu santri bernama Ahmad Rizal.

Rizal tak kuasa menahan tangis. Berasal dari Berrau Kalimantan Timur, orang tuanya juga meninggal dikarenakan mengalami penyakit Leukimia sebagaimana diperankan oleh Umi Pipik dalam film tersebut.

Film yang diperankan oleh para hafidz cilik serta beberapa pengahafal Qur'an ternama seperti Ustadz Ali Jaber tersebut diharapkan mampu meningkatkan semangat santri MBS Al-Mukhtar untuk menjadi seorang hafidz dengan segala keterbatasan yang ada.

Terlebih diakhir acara, para santri menyempatkan diri berfoto bersama dengan pemeran utama yang cukup inspiratif, yakni hafidz cilik Panca yang notabene memiliki keterbatasan penglihatan.

Setelah menonton, rombongan mendapat kesan positif dari film tersebut. "Film Surga Menanti ini sangat bagus, cocok untuk semua umur baik anak-anak, remaja terlebih dewasa dan para orang tua. Bisa menjadi motivasi bagi para penontonnya untuk mencintai Al-Qur'an serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari," sanjung ust. Seno selaku Direktur MBS Al-Mukhtar sekaligus Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 9 Watukebo.

"Dan yang juga perlu digaris bawahi dari film tersebut bahwa untuk bisa menjadi seorang hafidz tidak harus dari keluarga ystadz atau ustadzah, tidak hanya dari keluarga yang mampu secara ekonomi serta juga tidak harus dari keluarga yang memiliki strata sosial tinggi," imbuhnya. ● Seno