ADVERTISEMENTS

Muktamar IPM XX 2016 Samarinda, Momentum Pelajar Teladan

Muktamar IPM 2016 Samarinda
Muktamar IPM 2016 Samarinda - Menggerakkan daya kreatif, mendorong generasi berkemajuan.
Sejarah yang panjang telah dilewati dan akan terus berjalan hingga nanti, lika liku yang sudah dilalui menjadi sebuah rambu rambu yang akan menjadi dasar peringatan untuk sebuah perbaikan, menafsirkan apa yang ada dalam kehidupan untuk bisa dipahami bersama menghadapi tantangan yang semakin rupa merupakan kewajiban tersurat bagi Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Memandang Islam secara totalistik bertolak dari pandangan bahwa doktrin Islam bersifat Kaffah (total) serta mengandung wawasan-wawasan, nilaiinilai dan petunjuk yang bersifat langgeng dan komplit meliputi seluruh bidang kehidupan manusia dan masyarakat yang menerapkan unsur unsur fundamentalisme Islam (dalam syafii Anwar) adalah metode dan asas  dakwah Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Sebagai 'gradual central' perkaderan Persyarikatan, mutlak nilai-nilai Islam yang harus di utamakan untuk ditanamankan sebagai upaya melawan keadaan yang semakin waktu bisa di  pahami akan menuju keterbelakangan (Backwardness). Sudah barang tentu, keadan ini  bertolak belakang dengan nilai perjuangan yang sedang dijalankan dengan tema besar “Berkemajuan“.

Yakni sebuah bait kata yang mendobrak nalar memacu fikiran untuk senantiasa terus belajar menjadi satu pondasi untuk  merangkai piranti kognitif agar semakin baik lagi dalam hal keagamaan maupun gejolak pengetahuan.

Berada dalam usia awal kedewasaan tentu banyak hal yang sedang dan ingin dilakukan, termasuk dalam hal pengetahuan. Hal ini menjadi potensi sekaligus tantangan yang akan menjadi tantangan manakala tidak disiapkanya "hard-skill' dan 'soft-kill'-nya.

Kemajuan zaman yang semakin kompleks harus selalu dibarengi oleh upaya-upaya masif untuk meningkatkan potensi diri dan yang terpenting lagi adalah dalam ranah-ranah Ideologi Ikatan Pelajar Muhammadiyah harus melawan keadaan. Hal ini karena setiap dari kita bisa saja 'berbelanja' Ideologi kapan saja, pada siapa dan dimana saja tanpa mengingat dampak nya (taksonomi Lasswell).

Ikatan Pelajar Muhammadiyah secara materil telah memposisikan diri sebagai dakwah pelajar yang kredibel dan 'akuntable'. Cukup banyak penghargaan baik secara formal maupun sanjungan lisan dalam kelompok-kelompok sosial.

Hal ini akan tidak menjadi berarti pula manakala dalam setiap bagian-nya tidak memahami apa yang harus di lakukan.

“Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarntya.”(Anggaran Dasar IPM Pasal 6) sungguh merupakan cita-cita luar biasa dalam maksud dan tujuan IPM tersebut.

Cita-cita tersebut mengandung keinginan yang bisa di katakan begitu mulia telah banyak instrumen gerakan yang sudah dilakukan untuk mencapai tujuannya. Salah satu karakter pokok IPM untuk mencapai tujuannya adalah karakter keilmuan.

Corak keilmuan IPM tidak lepas dari kristalisasi prinsip 'kritis transformatif' yang menjadi patron bagi pelajar muhammadiyah dalam menanggapi realitas secara ilmiah.

Karakter keilmuan tersebut memiliki ciri pemikiran secara dialektis, yakni, ilmu-iman-amal, iman-amal-ilmu, amal-ilmu-iman yang dipahami sebagai kesatuan integral yang tidak dapat dipisahkan dan harus dimiliki oleh setiap kader.

Sehingga, gerakan keilmuan IPM tidak terjebak pada diskursus keilmuan yang dibangun atas dasar nalar instrumental, serba-bebas, serba-boleh (anarkisme), maupun perspektif keilmuan yang terpisah jauh dari nilai-nilai ilahiyah atau ketuhanan.

Sengketa antara perjuangan dengan realitas keadaan memang selalu berbenturan dan inilah yang menjadikan keragaman cara pandang, memilih cara pandang yang komprehensif tentang dunia manusia dan keadaan semesta dengan nalar yang ilmiah terukur dengan dasar ilmu.

Dan tentunya, yang mengandung kesadaran dan perencanaan untuk melakukan perubahan adalah cara IPM dalam memperjuangkan apa yang telah di pedomi secara kuat untuk menuju puncak sosial yang diinginkan (Pasal 6).

Kebutuhan komunikatif yang sempurna tanpa adanya egosentris organisasi sehingga tidak ada demarkasi dengan pihak manapun harus di bangun. Mengingat kedaulatan pun sebuah kebutuhan primer dalam hal kemajuan, tidak lagi memandang sempit apa yang sedang dikerjakan kemudian berfikir bahwa apa yang di kerjakan merupakan hajat bersama.

Menjadi "paragon" atau suri teladan bagi pelajar merupakan sejatinya merupakan keharusan untuk diperjuangkan. Artinya adalah setiap dari diri yang menghibahkan dirinya dalam gerakan IPM harus mampu bergerak diberbagai sisi keilmuan.

Sehingga, besar harapan atas Muktamar IPM 2016 di Samarinda (12-16/11/16) yang bertemakan, "Menggerakkan daya kreatif, Mendorong generasi berkemajuan" ini dapat melahirkan kader pemimpin dan pemimpin kader. Semoga!. ● Andi Saputra

Penulis adalah aktivis IPM Jember

Post A Comment

ADVERTISEMENTS