Menjaga Marwah Persyarikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah islam berkemajuan
Setiap kader yang mengaku sebagai warga Muhammadiyah memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga marwah persyarikatan sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar. Ilustrasi: Muhammadiyah, dok. Viva
Kita, saat ini hidup dalam sebuah periode fase kehidupan yang disebut sebagai era tekhnologi informasi. Sebuah masa dimana tidak ada lagi sekat ruang, waktu bahkan ideologi. Mudah dijumpai orang-orang yang kesehariannya identik dengan kemungkaran namun gemar sekali update status di sosial media bak ustadz.

Begitupula sebaliknya, tidak jarang pula kita menjumpai betapa naifnya seorang tokoh, seorang ilmuan cerdik pandai hingga agamawan yang dengan mudah 'menelanjangi diri sendiri' dengan postingan yang mereka bagikan via whatsapp dan sosial media lainnya. Entah semua itu dilakukan secara sadar ataupun tidak.

Dalam konteks kemuhammadiyahan, kondisi semacam ini cukup menarik untuk didiskusikan. Banyak diantara kita (atau bahkan termasuk kita) seakan bangga menjadi anggota persyarikatan yang disebut-sebut sebagai organisasi masyarakat terbesar di dunia ini. Namun ternyata, tanpa disadari pada saat bersamaan justru menggerogoti pilar ideologi didalamnya.

Ketika ideologi tergerus, maka kemampuan untuk menjaga marwah (dignity) atau harkat martabat dan kehormatan komunal pun akan koyak.

Amanah amar makruf nahi mungkar

Jika setiap diantara kita (yang mengaku dan merasa sebagai warga persyarikatan) menyadari bahwa ada amanah amar makruf nahi mungkar di pundak kita, maka insya allah tidak akan ada tipe kader atau warga persyarikatan yang suka berkeluh kesah sekaligus 'omdo'.

Hanya berada pada pilihan, jika mampu maka kerjakanlah, jika tidak, diam adalah pilihan paling elok. Sehingga hal itu justru tidak menjadi sumber masalah baru. Jika merasa rumah sendiri masih kurang, ya silahkan dibenahi tanpa harus 'menunjuk hidung' dan hantam sana sini.

Rumah bocor sudah seharusnya sang penghuni menambalnya, bukan malah mencaci, apalagi melarikan diri. Dan, yang lebih parah lagi pindah ke rumah tetangga sambil meneriaki kekurangan rumah yang telah membesarkan dirinya.

Muhammadiyah adalah rumah kita kawan, mari berbuat sebatas kemampuan masing-masing. Siapapun, dari manapun dan bahkan apapun latar belakangnya, kesalehan spiritual dalam ritual personal-nya harus berbuah dan memiliki implikasi menjadi kesalehan sosial. Ngapunten!. (*)

ditulis oleh:
Idris Mahmudi, M.PdI
Dosen Unmuh Jember
Majelis Dikdasmen PDM Jember

editor Fahrudin r.